Jangan salahkan hujan , hujan itu
indah, Hujan datang membawa
berkah. Sebagian sering berasumsi
bahwa penyebab banjir awal tahun
ini karena curah hujan tinggi
melanda kawasan Jabodetabek.
Tetapi faktanya tidak. Lantas, apa
sebabnya?,
Penyebabnya ialah kita sendiri,
kita masih belum memiliki
kesadaran dan peduli lingkungan.
Air hujan mestinya diserapkan ke
bumi.'' Namun yang terjadi,
kantong-kantong penyangga seperti
sawah, setu, dan rawa banyak yang
hilang serta berubah menjadi
perumahan dan perkantoran
megah.
Di hulu, pembalakan dan
penggundulan hutan merupakan
sumber utama datangnya banjir di
berbagai wilayah Indonesia. Curah
hujan dengan intensitas tinggi,
rendahnya kemampuan tanah
menyerap air berakibat rentannya
terjadi banjir dan longsor.
Salahkah hujan?
Hujan adalah air dari langit yang
diturunkan Allah dengan penuh
keberkahan: “Dan Kami turunkan
dari langit air yang penuh
keberkahan lalu Kami tumbuhkan
dengan air itu pohon-pohon dan
biji-biji tanaman yang
diketam” (Qs Qaaf 9).
Di antara keberkahan dan
manfaat hujan adalah manusia,
hewan dan tumbuh-tumbuhan
sangat membutuhkannya untuk
keberlangsungan hidup,
sebagaimana Allah Ta’ala: “Dan dari
air Kami jadikan segala sesuatu
yang hidup. Maka mengapakah
mereka tiada juga beriman?” (Qs
Al-Anbiya’ 30).
Rasulullah SAW semasa
hidupnya adalah orang yang
sangat senang dengan hujan,
karena hujan adalah rahmat Allah.
Dalam hadits dari Anas RA,
Rasulullah bahkan ber tabarruk
(mengambil berkah) dari air hujan:
“Kami bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah kehujanan. Lalu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyingkap bajunya hingga
terguyur hujan. Kemudian kami
mengatakan, ‘Ya Rasulullah,
mengapa engkau melakukan
demikian?’ Kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Karena dia baru saja
Allah ciptakan” (HR Muslim).
Hadits di atas dijadikan dalil
bagi ulama Syafi’iyah untuk
menganjurkan menyingkap
sebagian badan (selain aurat)
pada awal turunnya hujan, agar
terguyur air hujan tersebut.
Keutamaan lainnya, saat hujan
adalah waktu yang maqbul untuk
memanjatkan doa, sebagaimana
sabda Nabi SAW: “Carilah do’a
yang mustajab pada saat
bertemunya dua pasukan, pada
saat iqamah shalat, dan saat turun
hujan" (HR Al-Hakim).
Karena demikian banyaknya fadilah
hujan, maka Rasulullah SAW
menganjurkan doa mulia untuk
menyambut rahmat
hujan: “Muthirna bi fadhlillahi wa
rohmatih” (HR Muslim). Artinya:
“Kita diberi hujan karena karunia
dan rahmat Allah.”
Menolak hujan dengan meminta
bantuan paranormal adalah
tindakan yang tidak hanya
bertentangan dengan sunnah
Rasul, tapi juga kemusyrikan yang
tidak terampuni dosanya.
Rasulullah SAW
bersabda: “Barangsiapa
mendatangi tukang ramal atau
dukun lalu dia membenarkan apa-
apa yang dikatakan maka sungguh
dia telah kafir terhadap apa yang
telah diturunkan kepada
Muhammad” (HR Abu Dawud, At-
Tirmidzi, Ibnu Majah).
"Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang
selain dari syirik itu bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa
yang mempersekutukan Allah, maka
sungguh ia telah berbuat dosa
besar" (An-Nisaa': 48).
"Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga,
dan tempatnya ialah Neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang
zhalim itu seorang penolong
pun." (Al-Maa-idah: 72).
"Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu)
dengan Dia, dan Dia mengampuni
dosa yang lain dari syirik itu bagi
siapa yang dikehendaki-Nya.
Barang siapa yang
mempersekutukan (sesuatu)
dengan Allah, maka sesungguhnya
ia telah tersesat sejauh-
jauhnya." (An-Nisaa': 116).
“Barang siapa mempersekutukan
sesuatu dengan Allah, maka
(adalah) ia seolah-olah jatuh dari
langit lalu disambar oleh burung,
atau diterbangkan angin ke tempat
yang jauh.” (Al-Hajj: 31). Wallahu
a'lamu bis-shawab.
Total Tayangan Halaman
Senin, 20 Januari 2014
HUJAN ADALAH BERKAH, BERSYUKURLAH JIKA HUJAN
Selasa, 14 Januari 2014
Telur dan ayam duluan mn??
SainsMe - Ayam atau telur, mana
yang duluan ada? Ayam berasal dari
telur, tapi telur juga berasal dari
ayam. Jadi muter-muter gini. Kalau
boleh bercanda, jawabannya adalah
tergantung yang mana disebut
duluan. Tapi, para ilmuwan sudah
berhasil mengungkap teka-teki ini.
Menurut hasil riset tim ilmuwan dari
Sheffield dan Warwick University di
Inggris, ayam lebih duluan ada
daripada telur.
Penjelasan singkatnya begini, bahan
pembentuk cangkang telur adalah
protein yang hanya dapat ditemukan
di indung telur ayam. Jadi, telur ada
hanya jika diproses di dalam tubuh
ayam. Pasti pada penasaran gimana
para ilmuwan tersebut berhasil
mengungkap teka-teki ini. Tim
ilmuwan tersebut menggunakan
sebuah super komputer untuk
memperbesar proses pembentukan
sebuah telur. Mereka menemukan
bahwa protein yang bernama
ovocledidin-17 atau OC-17 bertindak
sebagai katalis untuk mempercepat
pembentukan cangkang telur.
Dengan super komputer bernama
HECToR yang berada di Edinburg,
Skotlandia, tim ilmuwan
mengungkapkan bahwa OC-17 sangat
penting dalam kristalisasi yang
merupakan tahap awal pembentukan
cangkang. Protein tersebut
mengubah kalsium karbonat menjadi
kristal keras yang menjadi bahan
pembuat cangkang.
OC-17 mempercepat produksi
cangkang telur dalam tubuh ayam
sehingga dalam waktu 24 jam
sebuah telur siap untuk dikeluarkan.
Yang perlu digarisbawahi dalam
penemuan ini adalah bahwa telur
tidak dapat diproduksi tanpa OC-17
yang terdapat dalam indung telur
ayam. Jadi, ini berarti bahwa ayam
pastilah lebih dulu dibandingkan
telur. Teka-teki ayam dan telur pun
terpecahkan.
Kamis, 09 Januari 2014
Sejarah Keraja'an kalingga
Garis waktu sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara
Prasejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara (358–669)
Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7
Sriwijaya (abad ke-7 sampai
ke-13)
Sailendra (abad ke-8 sampai
ke-9)
Kerajaan Medang (752–1006)
Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 sampa
ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 sampai
ke-15)
Kerajaan Islam
Penyebaran Islam (1200-1600)
Kesultanan Samudera Pasai
(1267-1521)
Kesultanan Ternate (1257–
sekarang)
Kerajaan Pagaruyung (1500-1825
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kerajaan Inderapura (1500-1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Cirebon (1552 - 1677
Kesultanan Mataram (1588—
1681)
Kesultanan Siak (1723-1945)
Kerajaan Kristen
Kerajaan Larantuka (1600-1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602-1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional
(1899-1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Revolusi nasional (1945–1950)
Indonesia Merdeka
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–
1965)
Masa Transisi (1965–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Reformasi (1998–sekarang)
l b s
Kalingga atau Ho-ling (sebutan
dari sumber Tiongkok) adalah
sebuah kerajaan bercorak Hindu
yang muncul di Jawa Tengah
sekitar abad ke-6 masehi. Letak
pusat kerajaan ini belumlah jelas,
kemungkinan berada di suatu
tempat antara Kabupaten
Pekalongan dan Kabupaten Jepara
sekarang. Sumber sejarah kerajaan
ini masih belum jelas dan kabur,
kebanyakan diperoleh dari sumber
catatan China, tradisi kisah
setempat, dan naskah Carita
Parahyangan yang disusun
berabad-abad kemudian pada
abad ke-16 menyinggung secara
singkat mengenai Ratu Shima dan
kaitannya dengan Kerajaan Galuh.
Kalingga telah ada pada abad ke-6
Masehi dan keberadaannya
diketahui dari sumber-sumber
Tiongkok . Kerajaan ini pernah
diperintah oleh Ratu Shima, yang
dikenal memiliki peraturan barang
siapa yang mencuri, akan
dipotong tangannya.
Catatan dari sumber lokal
Kisah lokal
Terdapat kisah yang berkembang
di Jawa Tengah utara mengenai
seorang Maharani legendaris yang
menjunjung tinggi prinsip
keadilan dan kebenaran dengan
keras tanpa pandang bulu. Kisah
legenda ini bercerita mengenai
Ratu Shima yang mendidik
rakyatnya agar selalu berlaku jujur
dan menindak keras kejahatan
pencurian. Ia menerapkan
hukuman yang keras yaitu
pemotongan tangan bagi siapa
saja yang mencuri. Pada suatu
ketika seorang raja dari seberang
lautan mendengar mengenai
kemashuran rakyat kerajaan
Kalingga yang terkenal jujur dan
taat hukum. Untuk mengujinya ia
meletakkan sekantung uang emas
di persimpangan jalan dekat
pasar. Tak ada sorang pun rakyat
Kalingga yang berani menyentuh
apalagi mengambil barang yang
bukan miliknya. Hingga tiga tahun
kemudian kantung itu disentuh
oleh putra mahkota dengan
kakinya. Ratu Shima demi
menjunjung hukum menjatuhkan
hukuman mati kepada putranya.
Dewan menteri memohon agar
Ratu mengampuni kesalahan
putranya. Karena kaki sang
pangeranlah yang menyentuh
barang yang bukan miliknya, maka
sang pangeran dijatuhi hukuman
dipotong kakinya. [1]
Carita Parahyangan
Berdasarkan naskah Carita
Parahyangan yang berasal dari
abad ke-16, putri Maharani Shima ,
Parwati, menikah dengan putera
mahkota Kerajaan Galuh yang
bernama Mandiminyak, yang
kemudian menjadi raja kedua dari
Kerajaan Galuh. Maharani Shima
memiliki cucu yang bernama
Sanaha yang menikah dengan raja
ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu
Brantasenawa. Sanaha dan
Bratasenawa memiliki anak yang
bernama Sanjaya yang kelak
menjadi raja Kerajaan Sunda dan
Kerajaan Galuh (723-732 M).
Setelah Maharani Shima
meninggal pada tahun 732 M,
Sanjaya menggantikan buyutnya
dan menjadi raja Kerajaan
Kalingga Utara yang kemudian
disebut Bumi Mataram, dan
kemudian mendirikan Dinasti/
Wangsa Sanjaya di Kerajaan
Mataram Kuno .
Kekuasaan di Jawa Barat
diserahkannya kepada putranya
dari Tejakencana, yaitu Tamperan
Barmawijaya alias Rakeyan
Panaraban. Kemudian Raja
Sanjaya menikahi Sudiwara puteri
Dewasinga, Raja Kalingga Selatan
atau Bumi Sambara, dan memiliki
putra yaitu Rakai Panangkaran.
Pada abad ke-5 muncul Kerajaan
Ho-ling (atau Kalingga) yang
diperkirakan terletak di utara Jawa
Tengah. Keterangan tentang
Kerajaan Ho-ling didapat dari
prasasti dan catatan dari negeri
Cina. Pada tahun 752, Kerajaan
Ho-ling menjadi wilayah taklukan
Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini
menjadi bagian jaringan
perdagangan Hindu, bersama
Malayu dan Tarumanagara yang
sebelumnya telah ditaklukan
Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut
menjadi pesaing kuat jaringan
perdagangan Sriwijaya-Buddha. [2]
Fakta
Di Puncak Rahtawu (Gunung
Muria) dekat dengan Kecamatan
Keling, Jepara di sana terdapat
empat arca batu, yaitu arca Batara
Guru, Narada, Togog, dan Wisnu.
Sampai sekarang belum ada yang
bisa memastikan bagaimana
mengangkut arca tersebut ke
puncak itu mengingat medan yang
begitu berat. Pada tahun 1990, di
seputar puncak tersebut, Prof
Gunadi[3] dan empat orang
tenaga stafnya dari Balai Arkeologi
Nasional Yogyakarta (kini Balai
Arkeologi Yogyakarta) menemukan
Prasasti Rahtawun. Selain empat
arca, di kawasan itu ada pula
enam tempat pemujaan yang
letaknya tersebar dari arah bawah
hingga menjelang puncak.
Masing-masing diberi nama
(pewayangan) Bambang Sakri,
Abiyoso, Jonggring Saloko,
Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan
Kamunoyoso.
Berita Cina
Berita keberadaan Ho-ling juga
dapat diperoleh dari berita yang
berasal dari zaman Dinasti Tang
dan catatan I-Tsing .
Catatan dari zaman Dinasti
Tang
Cerita Cina pada zaman Dinasti
Tang (618 M - 906 M) memberikan
tentang keterangan Ho-ling
sebagai berikut.
Ho-ling atau disebut Jawa
terletak di Lautan Selatan. Di
sebelah utaranya terletak Ta Hen
La ( Kamboja), di sebelah timurnya
terletak Po-Li ( Pulau Bali) dan di
sebelah barat terletak Pulau
Sumatera.
Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh
tembok yang terbuat dari tonggak
kayu.
Raja tinggal di suatu bangunan
besar bertingkat, beratap daun
palem, dan singgasananya terbuat
dari gading .
Penduduk Kerajaan Ho-ling
sudah pandai membuat minuman
keras dari bunga kelapa
Daerah Ho-ling menghasilkan
kulit penyu, emas , perak, cula
badak dan gading gajah.
Catatan dari berita Cina ini juga
menyebutkan bahwa sejak tahun
674 , rakyat Ho-ling diperintah oleh
Ratu Hsi-mo (Shima ). Ia adalah
seorang ratu yang sangat adil dan
bijaksana. Pada masa
pemerintahannya Kerajaan Ho-ling
sangat aman dan tentram.
Catatan I-Tsing
Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M)
menyebutkan bahwa pada abad
ke-7 tanah Jawa telah menjadi
salah satu pusat pengetahuan
agama Buddha Hinayana . Di Ho-
ling ada pendeta Cina bernama
Hwining, yang menerjemahkan
salah satu kitab agama Buddha ke
dalam Bahasa Cina. Ia
bekerjasama dengan pendeta Jawa
bernama Janabadra . Kitab
terjemahan itu antara lain
memuat cerita tentang Nirwana,
tetapi cerita ini berbeda dengan
cerita Nirwana dalam agama
Buddha Hinayana.
Peninggalan
Peninggalan Kerajaan Ho-ling
adalah:
Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas ditemukan di
ditemukan di lereng barat Gunung
Merapi , tepatnya di Dusun
Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan
Grabag, Magelang di Jawa Tengah.
Prasasti bertuliskan huruf Pallawa
yang berbahasa Sanskerta.
Prasasti menyebutkan tentang
mata air yang bersih dan jernih.
Sungai yang mengalir dari sumber
air tersebut disamakan dengan
Sungai Gangga di India . Pada
prasasti itu ada gambar-gambar
seperti trisula , kendi, kapak,
kelasangka, cakra dan bunga
teratai yang merupakan lambang
keeratan hubungan manusia
dengan dewa -dewa Hindu. [4]
Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di
Desa Sojomerto, Kecamatan Reban ,
Kabupaten Batang , Jawa Tengah.
Prasasti ini ber aksara Kawi dan
ber bahasa Melayu Kuna dan
berasal dari sekitar abad ke-7
masehi. Prasasti ini bersifat
keagamaan Siwais. Isi prasasti
memuat keluarga dari tokoh
utamanya, Dapunta Selendra,
yaitu ayahnya bernama Santanu,
ibunya bernama Bhadrawati,
sedangkan istrinya bernama
Sampula. Prof. Drs. Boechari
berpendapat bahwa tokoh yang
bernama Dapunta Selendra
adalah cikal-bakal raja-raja
keturunan Wangsa Sailendra yang
berkuasa di Kerajaan Mataram
Hindu.
Candi Angin
Candi Angin ditemukan di Desa
Tempur, Kecamatan Keling,
Kabupaten Jepara , Jawa Tengah.
Candi Bubrah, Jepara
Candi Bubrah ditemukan di Desa
Tempur, Kecamatan Keling,
Kabupaten Jepara , Jawa Tengah.
Kedua temuan prasasti ini
menunjukkan bahwa kawasan
pantai utara Jawa Tengah dahulu
berkembang kerajaan yang
bercorak Hindu Siwais. Catatan ini
menunjukkan kemungkinan adanya
hubungan dengan Wangsa
Sailendra atau kerajaan Medang
yang berkembang kemudian di
Jawa Tengah Selatan.
Referensi
1. ^ Drs. R. Soekmono, (1973 edisi
cetak ulang ke-5 1988). Pengantar
Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 ,
2nd ed . Yogyakarta: Penerbit
Kanisius. hlm. 37.
2. ^ Munoz, Paul Michel (2006).
Early Kingdoms of the Indonesian
Archipelago and the Malay
Peninsula. Singapore: Editions
Didier Millet. hlm. pages 171.
ISBN 981-4155-67-5 .
3. ^ http://regional.kompas.com/
read/2008/12/28/08593188/
Puncak.Sanga.Likur.Tempat.Ritual.1.Sura
4. ^ IPS Terpadu Kelas VII SMP/
MTs, Penerbit Galaxy Puspa
Mega:Tim IPS SMP/MTs.
Asal usul nama indonesia
Kata orang apalah arti nama. Ya, apa
artinya nama? Apakh pada akhirnya
nama memang sesuatu yang benar-
benar ‘unik’, yang dapat
membedakan ‘kita’ dengan ‘yang
lain’? Nah, kalau sama terus
kenapa? Dan kalau beda, memang
mau apa?
Pertanyaan itu mungkin bisa kita
renungkan bersama. Walaupun
perkara ‘nama’ ini kelihatannya
sederhana tetapi sebenarnya ada
“politik identitas” yang termuat di
dalamnnya loh… Aduh, hari gini
masih ngomong politik? Enggak
banget ya?! Eits, tenang… Politik
identitas ini punya definisi yang
beda dari politik kekuasan. Nah,
sebelum kita masuk ke “politik
identitas” itu kita pelajari dulu yuk
asal-usul nama Indonesia…
Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman
purba kepulauan tanah air kita
disebut dengan aneka nama. Dalam
catatan bangsa Tionghoa kawasan
kepulauan kita dinamai Nan-hai atau
Kepulauan Laut Selatan. Berbagai
catatan kuno bangsa India menamai
kepulauan ini Dwipantara,
Kepulauan Tanah Seberang, nama
yang diturunkan dari kata
Sansekerta, dwipa , yang berarti
pulau dan antara yang berarti luar
atau seberang.
Kisah Ramayana karya pujangga
Valmiki yang termasyhur itu
menceritakan pencarian terhadap
Sinta, istri Ramayang diculik Ravana,
sampai ke Suwarnadwipa ,
Pulau Emas , yaitu Sumatra
(sekarang) yang terletak di
Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab
menyebut tanah air kita Jaza’ir al-
Jawi, Kepulauan Jawa. Nama Latin
untuk kemenyan adalah benzoe ,
berasal dari bahasa Arab luban jawi
(kemenyan Jawa), sebab para
pedagang Arab memperoleh
kemenyan dari batang pohon Styrax
sumatrana yang dahulu hanya
tumbuh di Sumatra.
Sampai hari ini jemaah haji
kita masih sering dipanggil “Jawa”
oleh orang Arab, bahkan bagi
orang Indonesia luar Jawa sekalipun.
Para pedagang di Pasar Seng,
Mekkah menyebut, “Samathrah,
Sholibis, Sundah, kulluh Jawi” atau
“Sumatra, Sulawesi , Sunda,
semuanya Jawa”.
Masa kedatangan Bangsa Eropa
Lalu tibalah zaman kedatangan
orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa
Eropa yang pertama kali datang
beranggapan jika Asia hanya terdiri
dari Arab, Persia , India , dan Cina.
Bagi mereka,
daerah yang terbentang luas antara
Persia dan Cina semuanya adalah
Hindia. Semenanjung Asia Selatan
mereka sebut “Hindia Muka” dan
daratan Asia Tenggara dinamai
“Hindia Belakang”,
sedangkan tanah air kita memperoleh
nama “Kepulauan Hindia” (Indische
Archipel, Indian Archipelago,
l’Archipel Indien) atau “Hindia
Timur” (Oost Indie, East Indies ,
Indes Orientales). Nama
lain yang juga dipakai adalah
“Kepulauan Melayu” (*Maleische
Archipel, Malay Archipelago ,
l’Archipel Malais).
Ketika tanah ini dijajah oleh bangsa
Belanda, nama resmi yang digunakan
adalah Nederlandsch- Indie atau
Hindia Belanda, sedangkan
pemerintah pendudukan Jepang
1942-1945 memakai istilah Hindia
Timur atau To-Indo.
Berbagai Usulan Nama
Eduard Douwes Dekker
(1820-1887), yang dikenal dengan
nama samaran Multatuli, pernah
mengusulkan namayang spesifik
untuk menyebutkan
kepulauan tanah air kita, yaitu
Insulinde, yang artinya juga
“Kepulauan Hindia” (bahasa Latin
insula berarti pulau). Tetapi rupanya
nama Insulinde ini kurang populer.
Bagi orang Bandung , Insulinde
mungkin hanya dikenal sebagai
nama toko buku yang pernah ada di
Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois
Eugene Douwes Dekker
(1879-1950), yang dikenal sebagai Dr.
Setiabudi (cucu dari adik Multatuli),
memopulerkan suatu nama
untuk tanah air kita yang tidak
mengandung unsur kata “ India ”.
Nama itu tiada lain adalah
Nusantara, suatu istilah yang telah
tenggelam berabad-abad lamanya.
Setiabudi mengambil nama itu dari
Pararaton, naskah kuno zaman
Majapahit yang ditemukan di Bali
pada akhir abad ke-19 Lalu
diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes
dan diterbitkan oleh Nicholaas
Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa
pengertian
Nusantara yang diusulkan Setiabudi
jauh berbeda dengan pengertian,
nusantara zaman Majapahit. Pada
masa Majapahit Nusantara
digunakan untuk menyebutkan
pulau-pulau di luar Jawa (antara
dalam bahasa Sansekerta artinya
luar, seberang) sebagai lawan dari
Jawadwipa (Pulau Jawa). Kata-kata
ini sendiri termuat dalam Sumpah
Palapa yang dikumandangkan Gajah
Mada, ”Lamun huwus kalah
Nuswantara, isun amukti palapa” ,
“jika telah kalah pulau-pulau
seberang, barulah saya menikmati
istirahat” . Oleh Dr.
Setiabudi katanusantara zaman
Majapahit tersebut diberi
pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu asli
antara, maka Nusantara kini memiliki
arti yang baru yaitu “nusa di antara
dua benua dan dua samudra”,
sehingga Jawa pun termasuk dalam
definisi Nusantara yang modern.
Istilah Nusantara dari Setiabudi ini
dengan cepat menjadi populer
penggunaannya sebagai alternatif
dari nama Hindia Belanda. Sampai
hari ini istilah Nusantara
tetap kita pakai untuk menyebutkan
wilayah tanah air kita dari Sabang
sampai Merauke. Tetapi nama resmi
bangsa dan
negara kita adalah Indonesia. Lalu
dari mana gerangan
nama yang sukar bagi lidah Melayu
ini muncul?
Nama Indonesia
Tahun 1847 di Singapura terbit
sebuah majalah ilmiah tahunan,
Journal of the
Indian Archipelago and Eastern Asia
(JIAEA), yang dikelola oleh James
Richardson Logan (1819-1869),
seorang Skotlandia yang meraih
sarjana hukum dari Universitas
Edinburgh. Kemudian pada tahun
1849 seorang ahli etnologi bangsa
Inggris, George Samuel Windsor Earl
(1813-1865), menggabungkan diri
sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850,
halaman 66-74, Earl menulis artikel
“On the Leading Characteristics of
the Papuan, Australian and Malay-
Polynesian Nations.” Dalam
artikelnya itu Earl menegaskan
bahwa sudah tiba saatnya bagi
penduduk Kepulauan Hindia atau
Kepulauan Melayu untuk memiliki
nama khas, a distinctive name,
sebab nama Hindia Tidaklah tepat
dan sering rancu dengan
penyebutan India yang lain. Earl
mengajukan dua pilihan nama,
Indunesia atau Malayunesia, nesos,
dalam bahasa Yunani berarti Pulau.
Pada halaman 71 artikelnya itu
tertulis, “… the inhabitants of the
Indian Archipelago or
malayan Archipelago would become
respectively Indunesians or
Malayunesians.”
Earl sendiri menyatakan memilih
nama Malayunesia, Kepulauan
Melayu, daripada Indunesia atau
Kepulauan Hindia, sebab
Malayunesia sangat tepat untuk ras
Melayu, sedangkan Indunesia bisa
juga digunakan untuk Ceylon
(Srilanka) dan Maldives (Maladewa).
Lagi pula, kata Earl, bukankah
bahasa Melayu dipakai di seluruh
kepulauan ini? Dalam tulisannya itu
Earl memang menggunakan istilah
Malayunesia dan tidak memakai
istilah Indunesia. Dalam JIAEA
Volume IV itu juga, halaman
252-347, James Richardson Logan
menulis artikel The Ethnology of the
Indian Archipelago, Pada awal
tulisannya, Logan pun menyatakan
perlunya nama khas bagi kepulauan
ini, sebab istilah “Indian
Archipelago” terlalu panjang dan
membingungkan. Logan memungut
nama Indunesia yang dibuang Earl,
dan huruf u digantinya dengan
huruf o agar ucapannya lebih
baik. Maka lahirlah
istilah Indonesia.
Untuk pertama
kalinya kata Indonesia muncul di
dunia dengan tercetak pada
halaman 254 dalam tulisan Logan,
“Mr. Earl suggests the
ethnographical term Indunesian, but
rejects it in favour of Malayunesian.
I prefer the purely geographical
term Indonesia , which is merely a
shorter synonym for the
Indian Islands or the
Indian Archipelago.” Ketika
mengusulkan nama Indonesia
agaknya Logan tidak menyadari
bahwa di kemudian hari nama itu
akan menjadi nama bangsa dan
negara yang jumlah penduduknya
peringkat keempat terbesar di muka
bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten
menggunakan nama “Indonesia”
dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan
lambat laun pemakaian istilah ini
menyebar di kalangan para ilmuwan
bidang etnologi dan geografi. Pada
tahun 1884 guru besar etnologi di
Universitas Berlin yang bernama
Adolf Bastian (1826-1905)
menerbitkan buku Indonesien oder
die Inseln des Malayischen Archipel
sebanyak lima volume, yang memuat
hasil penelitiannya ketika
mengembara ke tanah air kita tahun
1864 sampai 1880. Buku Bastian
inilah yang memopulerkan istilah
“Indonesia” di kalangan sarjana
Belanda, sehingga sempat timbul
anggapan bahwa istilah “Indonesia”
itu ciptaan Bastian. Pendapat yang
tidak benar itu, antara lain
tercantum dalam Encyclopedie van
Nederlandsch-Indie tahun 1918.
Putra pertiwi yang mula-mula
menggunakan istilah “Indonesia”
adalah Suwardi Suryaningrat atau Ki
Hajar Dewantara. Ketika di buang ke
negeri Belanda tahun 1913 beliau
mendirikan sebuah biro pers dengan
nama Indonesische Pers-bureau .
Masa Kebangkitan Nasional: Makna
politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama
Indonesia yang merupakan istilah
ilmiah dalam etnologi dan geografi
itu diambil alih oleh tokoh-tokoh
pergerakan kemerdekaan tanah air
kita, sehingga nama Indonesia
akhirnya memiliki makna politis,
yaitu identitas suatu bangsa yang
memperjuangkan kemerdekaan.
Akibatnya pemerintah Belanda mulai
curiga dan waspada terhadap
pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif
Mohammad Hatta, seorang
mahasiswa Handels Hoogeschool
(Sekolah Tinggi Ekonomi) di
Rotterdam, organisasi pelajar dan
mahasiswa Hindia di Negeri Belanda,
yang terbentuk tahun 1908 dengan
nama Indische Vereeniging, berubah
nama menjadi Indonesische
Vereeniging atau Perhimpoenan
Indonesia. Majalah mereka, Hindia
Poetra, berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka.
Dalam satu tulisannya Bung Hatta
menegaskan, “Negara Indonesia
Merdeka yang akan datang (de
toekomstige vrije Indonesische staat)
mustahil disebut Hindia Belanda.
Juga tidak Hindia saja, sebab dapat
menimbulkan kekeliruan dengan
India yang asli. Bagi kami nama
Indonesia menyatakan suatu tujuan
politik (een politiek doel), karena
melambangkan dan mencita-citakan
suatu tanah air di masa depan, dan
untuk mewujudkannya tiap orang
Indonesia (Indonesier) akan
berusaha dengan segala tenaga dan
kemampuannya.“
Sementara itu, di tanah air Dr.
Sutomo mendirikan Indonesische
Studie Club pada tahun 1924. Tahun
itu juga Perserikatan Komunis Hindia
berganti nama menjadi Partai
Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada
tahun 1925 Jong Islamieten Bond
membentuk kepanduan Nationaal
Indonesische Padvinderij (Natipij).
Itulah tiga organisasi di tanah air
yang mula-mula menggunakan nama
Indonesia. Akhirnya nama Indonesia
dinobatkan sebagai nama tanah air,
bangsa dan bahasa kita pada
Kerapatan Pemoeda-Pemoedi
Indonesia tanggal 28 Oktober 1928,
yang kini kita sebut Sumpah
Pemuda. Pada bulan Agustus 1939
tiga orang anggota Volksraad,
Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho
Purbohadidjojo, dan Sutardji
Kartohadikusumo, mengajukan mosi
kepada Pemerintah Belanda agar
nama “Indonesia” diresmikan
sebagai pengganti nama
“Nederlandsch- Indie”. Tetapi
Belanda keras kepala sehingga mosi
ini ditolak mentah-mentah namun
masukkanya Jepang pada tanggal 8
Maret 1942 membuat Hindia Belanda
‘lenyap’ dan pada akhirnya
tergantikan dengan Republik
Indonesia.
Rabu, 08 Januari 2014
Asal usul kota kudus
Sejarah Asal -usul Kota
Kudus
Sejarah Kota Kudus tidak terlepas
dari Sunan Kudus. Karena keahlian
dan ilmunya, maka Sunan Kudus
diberi tugas memimpin para
Jamaah Haji, sehingga beliau
mendapat gelar “Amir Haji” yang
artinya orang yang menguasai
urusan para Jama’ah Haji. Beliau
pernah menetap di Baitul Maqdis
untuk belajar agama Islam. Ketika
itu disana sedang berjangkit
wabah penyakit, sehingga banyak
orang yang mati. Berkat usaha
Ja’far Shoddiq, wabah tersebut
dapat diberantas.
Atas jasa-jasanya, maka Amir di
Palestina memberikan hadiah
berupa Ijazah Wilayah, yaitu
pemberian wewenang menguasai
suatu daerah di Palestina.
Pemberian wewenang tersebut
tertulis pada batu yang ditulis
dengan huruf arab kuno, dan
sekarang masih utuh terdapat di
atas Mihrab Masjid Menara Kudus
(lihat gambar).
Peran Sunan Kudus
Sunan Kudus memohon kepada
Amir Palestina yang sekaligus
sebagai gurunya untuk
memindahkan wewenang wilayah
tersebut ke pulau Jawa.
Permohonan tersebut dapat
disetujui dan Ja’far Shoddiq
pulang ke Jawa. Setelah pulang,
Ja’far Shoddiq mendirikan Masjid
di daerah Kudus pada tahun 1956
H atau 1548 M. Semula diberi
nama Al Manar atau Masjid Al
Aqsho, meniru nama Masjid di
Yerussalem yang bernama Masjidil
Aqsho. Kota Yerussalem juga
disebut Baitul Maqdis atau Al-
Quds. Dari kata Al-Quds tersebut
kemudian lahir kata Kudus, yang
kemudian digunakan untuk nama
kota Kudus sekarang. Sebelumnya
mungkin bernama Loaram, dan
nama ini masih dipakai sebagai
nama Desa Loram sampai sekarang.
Masjid buatan Sunan Kudus
tersebut dikenal dengan nama
masjid Menara di Kauman Kulon.
Sejak Sunan Kudus bertempat
tinggal di daerah itu, jumlah kaum
muslimin makin bertambah
sehingga daerah disekitar Masjid
diberi nama Kauman, yang berarti
tempat tinggal kaum muslimin.
Cerita Rakyat
Ada cerita rakyat di Kudus tentang
'apa sebab masyarakat Kudus
sampai sekarang tidak
menyembelih sapi'?. Sebelum
kedatangan Islam, daerah Kudus
dan sekitarnya merupakan Pusat
Agama Hindu. Dahulu Sunan
Kudus ketika dahaga pernah
ditolong oleh seorang pendeta
Hindu dengan diberi air susu sapi.
Maka sebagai rasa terima kasih,
Sunan Kudus waktu itu melarang
menyembelih binatang sapi
dimana dalam agama Hindu, sapi
merupakan hewan yang
dimuliakan.
Hari Jadi Kota Kudus
Hari Jadi Kota Kudus di tetapkan
pada tanggal 23 September 1549 M
dan diatur dalam Peraturan Daerah
(PERDA) No. 11 tahun 1990 tentang
Hari Jadi Kudus yang di terbitkan
tanggal 6 Juli 1990 yaitu pada era
Bupati Kolonel Soedarsono. Hari
jadi Kota Kudus dirayakan dengan
parade, upacara, tasyakuran dan
beberapa kegiatan di Al Aqsa /
Masjid Menara yang dilanjutkan
dengan ritual keagamaan seperti
doa bersama dan tahlil.
Selasa, 07 Januari 2014
Jepara kota ukir
Asal usul Mengapa Jepara jadi Kota
Ukir Menurut LegendaDikisahkan
seorang ahli seni pahat dan lukis
bernama Prabangkara yang hidup
pada masa Prabu Brawijaya dari
Kerajaan Majapahit, pada suatu
ketika sang raja menyuruh
Prabangkara untuk membuat
lukisan permaisuri raja sebagai
ungkapan rasa cinta beliau pada
permaisurinya yang sangat cantik
dan mempesona.Lukisan
permaisuri yang tanpa busana itu
dapat diselesaikan oleh
Prabangkara dengan sempurna dan
tentu saja hal ini membuat Raja
Brawijaya menjadi curiga karena
pada bagian tubuh tertentu dan
rahasia terdapat tanda alami/
khusus yang terdapat pula pada
lukisan serta tempatnya/posisi dan
bentuknya persis. Dengan suatu
tipu muslihat, Prabangkara dengan
segala peralatannya dibuang
dengan cara diikat pada sebuah
laying-layang yang setelah sampai
di angkasa diputus talinya.Dalam
keadaan melayang-layang inilah
pahat Prabangkara jatuh di suatu
desa yang dikenal dengan nama
Belakang Gunung di dekat kota
Jepara.Di desa kecil sebelah utara
kota Jepara tersebut sampai
sekarang memang banyak terdapat
pengrajin ukir yang berkualitas
tinggi. Namun asal mula adanya
ukiran disini apakah memang betul
disebabkan karena jatuhnya pahat
Prabangkara, belum ada data
sejarah yang mendukungnya.
Menurut SejarahPada masa
pemerintahan Ratu Kalinyamat,
terdapat seorang patih bernama
Sungging Badarduwung yang
berasal dari Campa (Kamboja)
ternyata seorang ahli memahat
pula. Sampai kini hasil karya Patih
tersebut masih bisa dilihat di
komplek Masjid Kuno dan Makam
Ratu Kalinyamat yang dibangun
pada abad XVI.Keruntuhan
Kerajaan Majapahit telah
menyebabkan tersebarnya para ahli
dan seniman hindu ke berbagai
wilayah paruh pertama abad XVI.
Di dalam pengembangannya,
seniman-seniman tersebut tetap
mengembangkan keahliannya
dengan menyesuaikan identitas di
daerah baru tersebut sehingga
timbulah macam-macam motif
kedaerahan seperti : Motif
Majapahit, Bali, Mataram,
Pajajaran, dan Jepara yang
berkembang di Jepara hingga kini.
Pendidikan karakter
Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Ahli
Penguatan pendidikan moral (moral
education) atau pendidikan
karakter (character education )
dalam konteks sekarang sangat
relevan untuk mengatasi krisis moral
yang sedang melanda di negara kita.
Krisis tersebut antara lain berupa
meningkatnya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan anak-anak
dan remaja , kejahatan terhadap
teman, pencurian remaja, kebiasaan
menyontek, penyalahgunaan obat-
obatan , pornografi, dan perusakan
milik orang lain sudah menjadi
masalah sosial yang hingga saat ini
belum dapat diatasi secara tuntas,
oleh karena itu betapa pentingnya
pendidikan karakter .
Menurut Lickona, karakter berkaitan
dengan konsep moral (moral
knonwing), sikap moral (moral
felling), dan perilaku moral (moral
behavior). Berdasarkan ketiga
komponen ini dapat
dinyatakanbahwa karakter yang
baikdidukung oleh pengetahuan
tentang kebaikan, keinginan untuk
berbuat baik, dan melakukan
perbuatan kebaikan. Bagan dibawah
ini merupakan bagan kterkaitan
ketiga kerangka pikir ini.
Gambar: Keterkaitan antara
komponen moral dalam rangka
pembentukan
Karakter yang baik menurut
Lickona
Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Ahli
1. Pendidikan Karakter Menurut
Lickona
Secara sederhana, pendidikan
karakter dapat didefinisikan sebagai
segala usaha yang dapat dilakukan
untuk mempengaruhi karakter siswa.
Tetapi untuk mengetahui pengertian
yang tepat, dapat dikemukakan di
sini definisi pendidikan karakter
yang disampaikan oleh Thomas
Lickona. Lickona menyatakan bahwa
pengertian pendidikan karakter
adalah suatu usaha yang disengaja
untuk membantu seseorang
sehingga ia dapat memahami,
memperhatikan, dan melakukan
nilai-nilai etika yang inti.
2. Pendidikan Karakter Menurut
Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan
karakter sebagai cara berpikir dan
berperilaku yang menjadi ciri khas
tiap individu untuk hidup dan
bekerja sama, baik dalam lingkup
keluarga, masyarakat, bangsa,
maupun negara.
3. Pendidikan Karakter Menurut
Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang
dimiliki oleh suatu benda atau
individu. Ciri khas tersebut adalah
asli dan mengakar pada kepribadian
benda atau individu tersebut, serta
merupakan “mesin” yang mendorong
bagaimana seorang bertindak,
bersikap, berucap, dan merespon
sesuatu (Kertajaya, 2010).
4. Pendidikan Karakter Menurut
Kamus Psikologi
Menurut kamus psikologi , karakter
adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya
kejujuran seseorang, dan biasanya
berkaitan dengan sifat-sifat yang
relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
Nilai-nilai dalam pendidikan
karakter
Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan
karakter yaitu , Religius, Jujur,
Toleransi, Disiplin, Kerja Keras,
Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa
Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan,
Cinta tanah air, Menghargai prestasi,
Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai,
Gemar membaca, Peduli lingkungan,
Peduli social, Tanggung jawab.
Lebih jelas tentang nilai-nilai
pendidikan karakter dapat di lihat
pada bagan dibawah ini
18 Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter telah menjadi
perhatian berbagai negara dalam
rangka mempersiapkan generasi
yang berkualitas, bukan hanya untuk
kepentingan individu warga negara,
tetapi juga untuk warga masyarakat
secara keseluruhan. Pendidikan
karakter dapat diartikan sebagai the
deliberate us of all dimensions of
school life to foster optimal character
development (usaha kita secara
sengaja dari seluruh dimensi
kehidupan sekolah/madrasah untuk
membantu pembentukan karakter
secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan
metode khusus yang tepat agar
tujuan pendidikan dapat tercapai. Di
antara metode pembelajaran yang
sesuai adalah metode keteladanan,
metode pembiasaan, dan metode
pujian dan hukuman.
Nah demikianlah beberapa
pengertian pendidikan karakter
menurut para ahli, semoga
bermanfaat.
ASAL USUL PENDUDUK PULAU JAWA
Menurut Suyono, dari karya
Van Hien, menyebutkan bahwa
keterangan terbaik mengenai
keadaan geologi pulau Jawa dapat
ditemukan dalam tulisan kuno
Hindu yang menyatakan bahwa
Jawa sebelumnya adalah pulau-
pulau yang diberi nama Nusa
Kendang yang menjadi bagian dari
India. Pulau ini merupakan
hamparan dari beberapa pulau
yang kemudian karena letusan
gunung-gunung berapi dan
goyangan dahsyat gempa bumi
pulau-pulau itu bersatu. Babad itu
menceritakan bahwa pada tahun
296 sesudah Masehi terjadi
letusan gunung-gunung berapi
yang berada di pulau itu, sehingga
gunung yang semula ada menjadi
hilang dan memunculkan gunung-
gunung berapai yang baru.
148 tahun kemudian.
Tepatnya pada 444 sesudah
Masehi terjadi gempa bumi yang
memisahkan Tembini, daerah
bagian selatan pulau Jawa menjadi
pulau tersendiri: Nusa Barung dan
Nusa Kambangan. Tahun 1208
pulau Sumtera karena suatu
musibah gempa juga terpisah
dengan pulau Jawa. Begitu juga
pada tahun 1254, Madura yang
semula bernama Hantara
mengalami kejadian serupa, yang
disusul kemudian pada 1293 pulau
Balu yang terpisah dengan Jawa.
Adapun para penghuni Pulau
Jawa, seperti diceritakan dari
sumber surat kuno yang tidak
beredar, yaitu Serat Asal Keraton
Malang berasal dari daerah Turki,
tetapi ada yang menyebut daerah
Dekhan (India). Pada tahun 350
SM, Raja Rum, pemimpin dari
wilayah tersebut mengirim
perpindahan penduduk sebanyak
20.000 laki-laki dan 20.000
perempuan. Yang dipimpin oleh Aji
Keler. Pengiriman ini adalah
pengiriman yang kedua, karena
pengiriman yang pertama
mengalami kegaalan dengan
kembalinya seluruh utusan ke
negeri asal yang terjadi pada
tahun 450 SM. Jawa yang saat itu
bernama Nusa Kendang ditemukan
sebagai pulau yang ditutupi hutan
dan dihuni serbagai jenis binatang
buas dan tanah datarnya
ditumbuhi tanaman yang
dinamakan Jawi. Karena
keseluruhan dataran pulau ini
dipenuhi tanaman tersebut, maka
ia meberi nama pulau ini dengan
nama “Jawi”.
Karena nama Jawi masih
umum dan meliputi seluruh
daratan pulau ini, maka agak sulit
menentukan lokasi pendaratan
para utusan ini. Akan tetapi,
diperkirakan pendaratan itu terjadi
di Semampir, yaitu suatu tempat
yang dekat dengan Surabaya saat
ini. Gelombang kedua ini juga
mengalami kegagalan karena yang
tersisa dari mereka hanya 40
pasang. Hal ini mendorong Raja
untuk mengirim utusan lagi
dengan persiapan yang lebih
matang dan penyeidaan alat yang
lebih lengkap untuk menjaga dari
kemungkinan serangan binatang
buas seperti yang dialami utusan
pertama dan kedua. Di samping
peralatan pengamanan diri, mereka
juga diperlengkapi dengan alat
pertanian, sebagai alat bercocok
tanam bila kelak berhasil
menempatinya dengan aman.
Sementara itu, untuk mencegah
agar orang-orang supaya tidak
melarikan diri, diangkatlah seorang
pemimpin dari kalangan mereka
yaitu Raja Kanna. Gelombang
ketiga ini rupanya berhasil dan
akhirnya mereka menyebar ke
pedalaman yang terbuka di pulau
Jawa. Dari sisi keyakinan, orang-
orang gelombang ketiga ini
menganut kepercayaan Animisme.
Dari sumber lain menyebutkan
bahwa penduduk Jawa berasal dari
daratan Cina Selatan yang
membanjiri pulau ini sejak 3 ribu
tahun SM. Selama 2 ribu tahun
kemudian terjadi perpindahan
penduduk dari tempat yang sama.
Penduduk Jawa menurut sumber
ini berasal dari gelomnang-
gelombang itu. Mereka hidup dari
pertanian karena sebelumnya
sudah mengenal persawahan.
Pada tahun 100 SM terjadi
lagi perpindahan penduduk
keempat yang terdiri dari kaum
Hindu-Waisya. Mereka itu adalah
para petani dan pedagang yang
karena permasalahan keyakinan
mereka meninggalkan India. Warga
pindahan kelompok keempat ini
menetap di daerah Pasuruan dan
Probolinggo. Kemudian mereka
secara perlahan membuat koloni-
koloni di bagian selatan pulau
Jawa yang pusatnya terletak di
Singosari. Ketika di Singosari, siapa
yang memimpin tidak jelas, tetapi
ada naskah yang menyatakan
adanya Ratu yang memegang
kekuasaan di daerah Kedi, namya
Nyai Kedi. Singgasana kerajaan ini
berada di Kediri. Pada tahun 900
sesudah M, keturunan Hindu-
Waisya dimasukkan dalam kerajaan
Mendang yang juga dinamakan
Kamulan. Nama lain untuk
Mendang dan Kamulan ini adalah
Ngastina atau Gajah Huiya. Sedang
raja yang memerintah di sana
adalah Prabu Jayabaya. Dalam
sejarah, kerajaan dengan rajanya
yang menguasai seluruh wilayah
Jawa Timur pada tahun 1019-1049
adalah Airlangga. Ia kemudian
diganti Jaya Baya yang memerintah
pada tahun 1135-1157 M. Di bawah
kekuasaan Jaya Baya, Mpu Sedah
menerjemahkan sebagian Epos
India Mahabarata ke dalam Bahasa
Jawa engan nama Baratayuda. Jaya
Baya dikenal sebagai pemaklum
ramalan-ramalan yang akan terjadi
di pulau Jawa. Jayabaya kemudian
memindahkan kerajaannya itu ke
Kediri dan memberinya nama baru
yaitu Doho. Raja Jayabaya ini
dikenal sebagai ilmuan yang
ramalan-ramalannya banyak
terbukti terjadi di kemudian hari.
Ia meramalkan apa yang akan
terjadi di pulau Jawa hingga tahun
2074 M.
Ada cerita lain, bahwa pada
tahun 78 sesudah Masehi ada
seorang utusan dari kerajaan
Astina, namanya Aji Saka. Astina
adalah nama lain dari Gujarat.
Nama Astina juga masuk dalam
cerita pewayangan yang beredar di
masyarakat Jawa. Kemudian, Aji
Saka di utus untuk menyelidiki apa
yang ada dan terjadi pada
kepulauan di Nusantara. Sesampai
di pulau tersebut, ia mendarat di
bagian timur pulau Jawa yang saat
tiu masih bernama Nusa Kendang.
Kemudian Aji Saka menaklukkan
kerajaan Mendang dan mengusir
sang raja yang bernama Dewata
Cengkar. Tetapi kemudian Aji Saka
dikalahkan oleh Daniswara, putra
Dewata Cengkar. Karena kalah, Aji
Saka kembali ke Astina. Tahun 125
M, Aji Saka kembali lagi bersama
gelombang perpindahan orang-
orang Budha dan pada saat itulah
ia berhasil menaklukkan kerajaan
Mendang. Setelah kemenangan itu
Aji Saka memindahkan pusat
kerajaan ke Purwodadi.
Bersamaan dengan datangnya
Aji Saka, dimulailah Babad Jawa
dan perhitungan Tahun Jawa. Dari
Babad-babad itu diketahui, setelah
tahun 125 M pertumbuhan
penduduk semakin cepat oleh
perpindahan kaum Budha. Para
pendatang ini kemudian
menempat di pantai selatan pulau
Jawa yang bernama Barung dan
Tembini. Sebagaimana disebutkan
di atas, pada tahun 444 M terjadi
gempa bumi dahsyat yang
kemudian memecah pulau Jawa.
Pantai bagian selatan terbagi dua,
yaitu Nusa Barung yang berada di
dekat Puger Kulon dan Nusa
Kambangan yang berada di dekat
Cilacap.
Sebagaimana disebutkan
dalam buku Suyono, secara
berturut-turut perpindahan
penganut Budha ke pulau Jawa
terjadi sebagai berikut:
1. Tahun 157 M. Yang
menetap di daerah
Jepara.
2. Tahun 163 M. Yang
menetap di daerah Tegal
dan Banyumas.
3. Tahun 174 M. Yang
menetap di daerah
Tengger.
4. Tahun 193 M. Yang
menetap di daerah
Kedu.
5. Tahun 216 M. Yang
menempati daerah
Madiun.
6. Tahun 252 M. Yang
menempati daerah
Yogyakarta.
7. Tahun 272 M. Yang
menempati daerah
Kediri.
8. Tahun 295 M. Yang
menempati daerah Ngawi
dan Bojonegoro.
9. Tahun 312 M. Yang
menempati daerah
Kudus.
10. Tahun 314 M. Yang
menempati daerah
Mojokerto.
11. Tahun 424 M. Yang
menempati daerah
Surakarta.
Lebih lanjut, pada tahun 450
M terjadi lagi perpindahan
penduduk dari India yang
mendiami tanah yang terletak
antara sungai Cisadane dan
Citarum, di Jawa Barat. Para
pendatang itu menganut agama
Whisnu. Setelah beberepa lama
tinggal di tempat tersebut,
kemudian mereka membentuk
kerajaan sendiri dan memilih
seorang raja sebagai pemimpinnya.
Rajanya yang dipilij adalah
Purnawarman. Ia dikenal sebagai
raja yang gagah dan berani karena
ambisinya untuk menaklukan
kerajaan-kerajaan lain di tanah
Sunda. Meskipun tidak semuanya
berhasil dengan kemenangan,
Purnawarman dikenal sebagai raja
pertama yang memimpin wilayah
cukup luas di pulau Jawa.
Peralihan penduduk
selanjutnya terjadi pada tahun 643
M yang dilakukan oleh Kusuma
Citra, keturunan Jaya Baya. Pada
masa Kusuma Citra inilah Nama
Astina dirubah menjadi kerajaan
Gujarat atau Kujrat. Saat Kusuma
Citra menjadi raja, ada suatu
ramalan bahwa kerajaannya akan
musnah, karenanya ia berkeinginan
kuat untuk memindahkan
kerajaannya ke Pulau Jawa. Oleh
adanya keinginan itu, ia mengirim
sejumlah 5.000 penduduk yang
beragama Budha dengan pemimpin
putranya Awab. Penduduk yang
dikirim oleh Kusuma Citra itu
terdiri dari Jalma Tani, Jalma
Undagi, Jalma Udang Dudukan,
Jalma Pangiarik, dan Jalma Prajurit.
Pendaratan pertama di bagian
barat tidak berhasil, kemudian
mengubah haluan ke bagian timur
dan berhasil mendarat di sana.
Awab sebagai pemimpin kemudian
mendirikan kerajaan baru yang
diberi nama Mendang Kamulan.
Kemudian Awab menetapkan
dirinya sebagai raja dengan gelar
Brawijaya Sewala Cala.
Sejarah tanah Jawa
selanjutnya dapat ditemukan
dalam Babad-babad yang
menceritakan kelahiran kerajaan-
kerajaan di Jawa. Namun demikian,
sejarah tersebut penuh dengan
mitos dan tampaknya kurang dapat
diterima karena versinya yang amat
beragam. Terlebih ada motif
tertentu dari seroang raja
memerinth seroang Mpu atau
pujangga untuk menyusun
silsilahnya sampai kepada nabi
Adam yang dimaksudkan untuk
semakin mentahbiskan dirinya
sebagai wakil Tuhan di bumi.
Penegasan silsilah itu dimaksudkan
untuk semakin memperteguh
kewibawaannya di mata khalayak
rakyat. Cerita itu sulit diterima
kebenarannya karena tidak
diperkuat dengan bukti terjadinya
peristiwa namun demikianlah
adanya saat itu.
Memang mengenai Jawa bisa
ditemukan berbagai tulisan
sebagai bukti, akan tetapi bukti
yang didapat isinya samar-samar.
Sehingga hanya memperkuat
kejadian tertentu saja. Pada saat
ini, sebagaimana yang banyak
disebutkan dalam beberapa
sumber, sejarah Jawa dimulai dari
kedatangan Aji Saka tahun 78 atau
125 M. Kemudian, dalam buku
Etika Jawa, Franz Magnis
menyebutkan asal-usul penduduk
Jawa berasal dari perpindahan
penduduk dari Melayu yang
berasal dari Cina Selatan yang
dimulai sejak tahun 3.000 SM. Ia
berpendapat demikian sesuai
dengan apa yang dikatakan oleh
J.H. Kerm dalam buku “Linguistic
Materials for the determination of
the Century of Origin of the Malay
People”.
Ahmad Khalil. ISLAM JAWA Sufisme
dalam Etika dan Tradisi Jawa .
Malang: UIN-Malang Press. 2008.
Franz Magnis. Etika Jawa. Jakarta:
Gramedia. 2003
5 patung terunik di dunia
5 Patung Paling Unik dan
Aneh di Dunia
Patung merupakan karya seni yang
lahir atau dibangun untuk menjadi
sebuah simbol. Dan biasanya
berdirinya patung memiliki latar
belakang, seperti berkaitan
dengan sejarah, kejadian unik,
penghormatan atau apa pun yang
memiliki cerita khusus yang
berkaitan dengan patung tersebut.
Dan setelah berdiri, patung
ternyata menjadi lebih dari
sekedar simbol. Banyak diantara
kita yang menjadikan patung
tersebut sebagai salah satu objek
wisata.
Selain ini, bentuk dari patung yang
dibuat, menjadi daya tarik
tersendiri. Semakin sulit, semakin
indah, atau pun ukurannya yang
semakin besar patung tersebut,
maka perhatian akan semakin
besar pada patung tersebut. Atau
juga, material yang dipergunakan
bisa menjadi daya tarik.
Semakin unik bahan yang
digunakan, maka akan semakin
tinggi pula nilai seni dari patung
tersebut.
Namun dari beberapa patung yang
ada di belahan dunia, ada juga
patung yang menjadi
terkesan aneh. Mungkin karena
pesan yang disampaikan menjadi
tidak jelas, atau pun bentuknya
yang tidak indah.Berikut
unikgaul.com telah merangkum
berbagai macam patung
yang aneh.
1. Hand Of The Desert, Chili
Patung dengan
bentuk aneh pertama yakni hand
of the desert. Patung ini berdiri
sekitar 47 kilometer sebelah
selatan kota Antofagasta. Atau
tepatnya di tengah gurun pasir
atacama yang tandus. Patung ini
tepat berdiri di tepi jalan pan-
american highway. Patung ini
dianggap aneh dari bentuknya
yang menyerupai telapak tangan
manusia yang terkubur di dalam
pasir gurun. unikgaul.com
Telapak tangan raksasa dengan
tinggi mencapai 10,8 meter
tersebut dibuat oleh pematung
asal Chili, mario irarrazabal.
Patung ini dibangun sekitar tahun
80-an dengan nama mano de
desierto, dan baru diresmikan pada
28 maret 1992. Patung ini
menggunakan material besi dan
semen. Pembangunannya sendiri
didanai oleh corporacion pro
Antofagasta, sebuah organisasi
lokal. unikgaul.com
Sebenarnya bentuk tangan dari
patung ini untuk mengekspresikan
emosi manusia, seperti
ketidakadilan, kesepian,
penderitaan, penyiksaan. Namun
jika dilihat dari ukuranya
menekankan pada masalah
kerentanan dan ketidakberdayaan
manusia. Namun beberapa
wisatawan yang selalu singgah
ketika melintasi di gurun tersebut,
menilai tidak sesuai dengan makna
yang akan disampaikan. Bahkan
bentuk tangan pun
terlihat aneh. unikgaul.com
2. Posankka, Finlandia
Patung aneh berikutnya yakni
posankka di kawasan turku,
Finlandia. Atau tepatnya di dekat
kampus turku. Patung karya, alvar
gullichsen ini berukuran cukup
besar yang mencapai 4,8 meter,
dan diberi warna merah muda.
Material yang dipergunakannya
adalah kabel baja dan dilapasi
plastik dengan ketebalan dan
kekuatan yang sangat
baik.unikgaul.com
Posankka dibangun pada 1999 dan
ditempatkan di sungai aurajoki.
Namun patung tersebut dipindah
ke tempat yang kini kokoh berdiri
pada tahun 2001.
Dikatakan aneh karena bentuk dari
patung ini menggabungkan dua
hewan sekaligus yakni babi dan
bebek, sehingga tampak seperti
hewan aneh.
Ide awalnya pembuatan patung ini
adalah sbuah truk minyak dan
penyedot limbah beracin dari
pelabuhan turku yang disebut
bonk’s atomic llbh succer. Namun
entah kenapa yang jadi adalah
patung seekor hewan yang tidak
jelas. Dan setelah ditelusuri,
ternyata alvar terinspirasi sebuah
patung bugs bunny dan karakter
lainnya di sebuah toko warner
brothers di london. unikgaul.com
Lucunya kini setiap memperingati
hari besar atau hari penting
lainnya, patung ini akan didandani
sesuai tema hari besar tersebut.
Seperti saat natal, patung akan
dipakaikan topi natal, begitu pun
saat hari buruh, biasanya posankka
dipakaikan topi mahasiswa. Dan
juga ketika hari pramuka,
patung aneh ini akan mengenakan
topi pramuka.
3. Statue Of Liberation Through
Christ, Amerika Serikat
Patung yang
tampak aneh berikutnya berada di
Memphis,Tennessee, Amerika
Serikat. Patung yang berdiri di
sudut kirby parkway tersebut
merupakan replika dari patung
Liberty yang berada di New York.
Patung dengan tinggi mencapai 21,
6 meter tersebut diberi nama
lord’s lady Liberty. Bedanya
dengan patung Liberty
sesungguhnya adalah benda yang
dipegang di tangan kanan. Jika
Liberty memegang obor, lord’s lady
Liberty sedang memegang
salib. unikgaul.com
Patung ini diprakarsai seorang
pendeta di daerah tersebut yang
bernama williams. Menurut sang
pendeta patung tersebut
merupakan bentuk refleksi
terhadap kehidupan sosial di
Amerika yang semakin tidak
terkendali. Pada patung lord’s lady
Liberty tersebut tampak sedang
meneteskan air mata yang
melambangkan kesedihannya
dengan kondisi sekitar.
Namun banyak juga yang
mengkritik kalau patung yang
mengeluarkan dana sebesar 2,5
miliar rupiah tersebut, tampak
konyol, dan dana sebesar itu
terbuang sia-sia. Bahkan ada yang
menilai, patung tersebut tidak bisa
membantu memperbaiki kondisi
sosial yang sedang terjadi di
Amerika. Dan tidak sedikit dari
warga memphis yang tidak
memperdulikan keberadaan patung
tersebut.
4. Le passe-Murraile, Prancis
Patung aneh berikutnya bernama
Le Passie-Murraile. Patung yang
berada di sudut jalan Allee Des
Brouillards dan rue Norvivins,
Montmartre, Paris, Prancis ini,
berbentuk seorang pria keluar dari
dinding, yang terbuat dari
perunggu. Patung didirikan pada
1982 oleh seorang seniman asli
Prancis, jean marais.
Sebenarnya jika dilihat dari
bentuk, atau material yang
dipergunakan semuanya tampak
wajar-wajar saja. Apalagi bentuk
dari patung yang seolah-olah
sedang menembus dinding
dianggap sebuah bentuk karya seni
yang luar biasa. Bahkan banyak
orang yang mengagumi karya seni
patung ini.
Hanya saja yang membuat patung
ini dianggap aneh adalah latar
belakang dari pembuatan patung
tersebut. Ternyata patung ini
merupakan tokoh fiksi dari cerita le
passe-muraille, karya Marcel Ayme.
Cerita yang cukup melegenda di
Prancis tersebut, menceritakan
kisah seorang pria yang memiliki
kemampuan menembus dinding.
Sayanyanga kehebatannya tersebut
dipergunakan untuk hal-hal yang
salah, seperti merampok bank atau
kriminal lainnya. Dan akhirnya
sang tokoh tersebut terjebak dalam
dinding yang tidak bisa ke luar
sepenuhnya.
Dan tidak jauh dari berdirinya
patung tersebut, terdapat makam
dari pengarang cerita le passe-
murailla, Marcel Ayme yang
meninggal oktober 1967.
5. Floralis Generica, Argentina
Patung terakhir yang dianggap
memiliki bentuk aneh adalah
floralis Generica, di Buenos Aires,
Argentina. Patung ini berbentuk
bunga raksasa yang dibuat pada
tahun 2002 oleh seorang seniman
bernama Eduardo Catalano, dan
diletakkan di pelataran united
nations plaza, avenida figueroa
alcorta.
Sebenarnya patung yang berada di
tengah-tengah kolam dengan
diameter 44 meter tersebut,
memiliki keunikan yaitu bisa mekar
di pagi hari dan uncup saat malam
datang. Saat kuncup patung bunga
ini memiliki tinggi mencapai 22,5
meter. Dan saat mekar diameter
bunga mencapai 31,5 meter.
Catalano mengatakan ide membuat
patung bunga adalah untuk
menggambarkan sebuah harapan,
dan selalu terbuka setiap hari.
Namun yang membuat patung
tersebut dianggap aneh, karena
terbuat dari stainless steel, baja
dan alumunium, sehingga tidak
memperlihatkan keindahan seperti
halnya bunga dengan warna-warni
yang indah. Dan kini bunga baja
tersebut terpaksa terus dalam
kondisi mekar, lantaran adanya
kerusakan di salah satu bagian.
Sehingga agar patung tidak rusak
seluruhnya dibarkan dalam
keadaan mekar.
Definisi dan arti thoriqoh
Definisi dan Arti Thorîqoh
Oleh: Naufal bin Muhammad
Alaydrus
Secara bahasa tharîqah (tarekat)
dapat berarti jalan, metode, sistem,
cara, perjalanan, aturan hidup,
lintasan, garis, pemimpin sebuah
suku dan sarana.
Tharîqah dalam arti jalan, dapat kita
temukan di dalam beberapa ayat Al-
Qurân, di antaranya adalah wahyu
Allâh berikut:
ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﻮِ ﺍﺳْﺘَﻘَﺎﻣُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟﻄَّﺮِﻳْﻘَﺔِ َﻷَﺳْﻘَﻴْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻣَﺂﺀً ﻏَﺪَﻗًﺎ
Dan bahwasanya: jikalau mereka
tetap berjalan lurus di atas jalan itu
(agama Islam), benar-benar Kami
akan memberi minum kepada
mereka air yang segar (rezki yang
banyak). (Al-Jin, 72:16)
ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻣِﻨَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤُﻮْﻥَ ﻭَﻣِﻨَّﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺫﻟِﻚَ ﻛُﻨَّﺎ
ﻃَﺮَﺍﺋِﻖَ ﻗِﺪَﺩًﺍ
Dan sesungguhnya di antara kami
ada orang-orang yang saleh dan di
antara kami ada (pula) yang tidak
demikian halnya. Adalah kami
menempuh jalan yang berbeda-
beda. (Al-Jin, 72:11)
ﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ ﺇِﺫْ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﺃَﻣْﺜَﻠُﻬُﻢْ
ﻃَﺮِﻳْﻘَﺔً ﺇِﻥْ ﻟَﺒِﺜْﺘُﻢْ ﺇِﻻَّ ﻳَﻮْﻣًﺎ
Kami lebih mengetahui apa yang
mereka katakan, ketika berkata orang
yang paling lurus jalannya di antara
mereka: “Kamu tidak berdiam (di
dunia) melainkan hanyalah sehari
saja”. (Thâhâ, 20:104)
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﻓَﻮْﻗَﻜُﻢْ ﺳَﺒْﻊَ ﻃَﺮَﺍﺋِﻖَ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ
ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻏَﺎﻓِﻠِﻴْﻦَ
Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan di atas kamu tujuh
buah jalan (tujuh buah langit). dan
Kami tidaklah lengah terhadap
ciptaan (Kami).
(Al-Mukminûn, 23:17)
Menurut ‘Abdurrazzâq Al-Kâsyânî,
tharîqah adalah jalan khusus yang
ditempuh oleh para Sâlik dalam
perjalanan mereka menuju Allâh,
yaitu dengan melewati jenjang-
jenjang tertentu dan meningkat dari
satu maqâm ke maqâm yang lain.
Dalam bukunya yang berjudul Al-
Kibrîtul Ahmar wal Iksîrul Akbar
Habîb ‘Abdullâh bin Abû Bakar
Al-‘Aidarûs radhiyallâhu ‘anhu
menyebutkan:
Menurut para sufi, syariat adalah
ibarat sebuah kapal, tarekat
(tharîqah) adalah lautnya dan
hakikat (haqîqah) adalah permata
yang berada di dalamnya. Barang
siapa menginginkan permata, maka
dia harus naik kapal kemudian
menyelam lautan, hingga
memperoleh permata tersebut.
Kewajiban pertama penuntut ilmu
adalah mempelajari syariat. Yang
dimaksud dengan syariat adalah
semua perintah Allâh dan Rasul-Nya
shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa
shahbihi wasallam, seperti wudhu,
shalat, puasa, zakat, haji, mencari
yang halal, meninggalkan yang
haram dan berbagai perintah serta
larangan lainnya. Seyogyanya
seorang hamba menghiasi lahirnya
dengan pakaian syariat hingga
cahaya syariat tersebut bersinar
dalam hatinya dan kegelapan
insâniyyah sirna dari hatinya.
Akhirnya dia dapat menempuh
tarekat dan cahaya tersebut dapat
selalu bersemayam dalam hatinya.
Tarekat (tharîqah) adalah
pelaksanaan takwa dan segala
sesuatu yang dapat mendekatkanmu
kepada Allâh, seperti usaha untuk
melewati berbagai jenjang dan
maqâm. Setiap maqâm memiliki
tarekat tersendiri.
Setiap guru sufi memiliki tarekat
yang berbeda. Setiap guru akan
menetapkan tarekatnya sesuai
maqâm dan hâl-nya masing-masing.
Di antara mereka ada yang
tarekatnya duduk mendidik
masyarakat. Ada yang tarekatnya
banyak membaca wirid dan
mengerjakan shalat sunah, puasa
sunah dan berbagai ibadah lainnya.
Ada yang tarekatnya melayani
masyarakat, seperti memikul kayu
bakar atau rumput serta menjualnya
ke pasar dan kemudian hasilnya ia
dermakan. Setiap guru memilih
tarekatnya sendiri.
Adapun hakikat adalah sampainya
seseorang ke tujuan dan penyaksian
cahaya tajallî, sebagaimana ucapan
Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa
âlihi wa shahbihi wasallam kepada
Hâritsah, “Setiap kebenaran ada
hakikatnya, lalu apakah hakikat
keimananmu?” Hâritsah menjawab,
“Aku palingkan diriku dari dunia
sehingga batu dan lumpur, emas
maupun perak, sama saja bagiku. Di
siang hari aku berpuasa, sedangkan
di malam hari aku bergadang (shalat
malam).”
Keteguhan Hâritsah dalam
memegang agama Allâh serta
menjalankan perintah-Nya adalah
syariat. Kehati-hatian dan
semangatnya untuk beribadah
(bergadang) di malam hari, haus di
siang hari dan berpaling dari segala
keinginan nafsu adalah tarekat.
Sedangkan tersingkapnya berbagai
keadaan akhirat kepada Hâritsah
adalah hakikat.
Dalam sebuah kajian di kota Solo,
Jawa Tengah, Habîb ‘Umar bin
Muhammad bin Sâlim bin Hafidz,
telah menjelaskan sejarah
terbentuknya tharîqah tersebut.
Berikut saduran ceramah ilmiah
beliau:
Jika berbicara tentang tharîqah
berarti kita sedang membicarakan
inti sari dan ruh Islam serta tujuan
akhir seorang Muslim di dalam
hubungannya dengan Allâh
Subhânahu Wa Ta’âlâ.
Sebelum membahas lebih jauh
permasalahan ini, pertama-tama kita
harus mengetahui bahwa wahyu
yang diturunkan Allâh kepada Nabi
Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa
âlihi wa shahbihi wasallam berisi
hukum-hukum yang berhubungan
dengan jasmani dan hukum-hukum
yang berhubungan dengan
permasalahan hati; bagaimana
kondisi hatinya terhadap Allâh di
saat dia beramal.
Hukum-hukum yang berhubungan
dengan perbuatan anggota tubuh ini
selanjutnya dikenal dengan nama
fiqih atau fiqhudh dhâhir.
Sedangkan hukum-hukum yang
berhubungan dengan sifat-sifat hati,
selanjutnya disebut fiqhul Bâthin,
yang oleh sebagian besar umat
Islam dikenal dengan nama tasawuf.
Ayat-ayat yang membahas perbuatan
anggota tubuh melahirkan beberapa
madzhab dalam ilmu fiqih.
Sedangkan ayat-ayat yang membahas
berbagai permasalahan hati serta
metode penyucian hati, melahirkan
sejumlah tharîqah dalam tasawuf.
Sebenarnya dalil atau landasan
pendirian madzhab dan tharîqah
tersebut sudah ada sejak zaman
Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi
wa âlihi wa shahbihi wasallam.
Pada saat itu, para sahabat
menerima seruan dakwah Rasûlullâh
shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa
shahbihi wasallam dengan hati yang
suci dari gejolak nafsu, bersih dari
berbagai keinginan duniawi, serta
kosong dari tujuan-tujuan yang tidak
benar dan berbagai sifat tercela.
Setiap saat mereka berusaha
memperkuat pondasi tauhid yang
terdapat di dalam hatinya dengan
mengerjakan berbagai ibadah,
seperti shalat, doa dan berbagai
amal saleh lain yang diajarkan oleh
Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa
âlihi wa shahbihi wasallam. Kita pun
menyaksikan bagaimana mereka
berijtihad di hadapan Rasûlullâh
shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa
shahbihi wasallam tentang sebuah
persoalan dan Rasul membenarkan
kedua ijtihad tersebut. Kita juga
melihat, ada sahabat yang
menjadikan puasa sunah sebagai
ibadah pokoknya, ada pula yang
menjadikan shalat malam sebagai
ibadah pokoknya dan ada pula yang
berlama-lama ketika sujud dengan
memperbanyak doa yang diajarkan
Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa
âlihi wa shahbihi wasallam
diberbagai kesempatan sebagai
ibadah pokoknya. Kondisi-kondisi
semacam inilah yang menjadi
landasan munculnya berbagai
madzhab dalam fiqih dan tharîqah
dalam tasawuf.
Setelah agama Allâh (Islam) tersebar
luas di bumi Allâh, sebagaimana
telah dijanjikan oleh Rasûlullâh
shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa
shahbihi wasallam, maka tersebar
pula ilmu-ilmu fiqih yang
menjelaskan berbagai hukum dhâhir
dan ilmu-ilmu tasawuf yang
menjelaskan metode mengolah hati
menjadi ihsân, yaitu senantiasa
memperhatikan bagaiman hubungan
hati dengan Allâh yang Maha
Penyayang dan Maha Mulia. Dalam
kondisi semacam ini di tengah-
tengah masyarakat tumbuh berbagai
madzhab dan tharîqah tersebut.
Dari pemaparan di atas dapat kita
simpulkan bahwa tharîqah adalah
sebuah metode atau sistem khusus
yang digunakan oleh seseorang
dalam menempuh jalan menuju
Allâh.
Filsafat
menurut beberapa tokoh
adalah sebagai berikut :
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat
tidak lain dari pengetahuan tentang
segala yang ada.
Aristoteles ( (384 – 322 SM) :
Bahwa kewajiban filsafat adalah
menyelidiki sebab dan asas segala
benda. Dengan demikian filsafat
bersifat ilmu umum sekali. Tugas
penyelidikan tentang sebab telah
dibagi sekarang oleh filsafat dengan
ilmu.
Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat
adalah sebagai “ibu dari semua seni
“( the mother of all the arts“ ia juga
mendefinisikan filsafat sebagai ars
vitae (seni kehidupan )
Johann Gotlich Fickte
(1762-1814 ) : filsafat sebagai
Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-
ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi
dasar segala ilmu. Ilmu
membicarakan sesuatu bidang atau
jenis kenyataan. Filsafat
memperkatakan seluruh bidang dan
seluruh jenis ilmu mencari
kebenaran dari seluruh kenyataan.
Paul Nartorp (1854 – 1924 ) :
filsafat sebagai Grunwissenschat
(ilmu dasar hendak menentukan
kesatuan pengetahuan manusia
dengan menunjukan dasar akhir
yang sama, yang memikul
sekaliannya .
Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) :
Filsafat adalah ilmu pengetahuan
yange menjadi pokok dan pangkal
dari segala pengetahuan yang
didalamnya tercakup empat
persoalan.
Apakah yang dapat kita kerjakan ?
(jawabannya metafisika )
Apakah yang seharusnya kita
kerjakan (jawabannya Etika )
Sampai dimanakah harapan kita ?
(jawabannya Agama )
Apakah yang dinamakan manusia ?
(jawabannya Antropologi )
Notonegoro : Filsafat menelaah
hal-hal yang dijadikan objeknya
dari sudut intinya yang mutlak,
yang tetap tidak berubah , yang
disebut hakekat.
Driyakarya : filsafat sebagai
perenungan yang sedalam-
dalamnya tentang sebab-sebabnya
ada dan berbuat, perenungan
tentang kenyataan yang sedalam-
dalamnya sampai “mengapa yang
penghabisan “.
Sidi Gazalba : Berfilsafat ialah
mencari kebenaran dari kebenaran
untuk kebenaran , tentang segala
sesuatu yang di masalahkan,
dengan berfikir radikal, sistematik
dan universal.
Harold H. Titus (1979 ) : (1)
Filsafat adalah sekumpulan sikap
dan kepecayaan terhadap
kehidupan dan alam yang biasanya
diterima secara tidak kritis. Filsafat
adalah suatu proses kritik atau
pemikiran terhadap kepercayaan
dan sikap yang dijunjung tinggi; (2)
Filsafat adalah suatu usaha untuk
memperoleh suatu pandangan
keseluruhan; (3) Filsafat adalah
analisis logis dari bahasa dan
penjelasan tentang arti kata dan
pengertian ( konsep ); Filsafat
adalah kumpulan masalah yang
mendapat perhatian manusia dan
yang dicirikan jawabannya oleh
para ahli filsafat.
Hasbullah Bakry : Ilmu Filsafat
adalah ilmu yang menyelidiki
segala sesuatu dengan mendalam
mengenai Ke-Tuhanan, alam
semesta dan manusia sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan
tentang bagaimana sikap manusia
itu sebenarnya setelah mencapai
pengetahuan itu.
M. IZUDDIN TAUFIQ
Ilmu adalah penelusuran data atau
informasi melalui pengamatan,
pengkajian dan eksperimen, dengan
tujuan menetapkan hakikat,
landasan dasar ataupun asal
usulnya
# THOMAS KUHN
Ilmu adalah himpunan aktivitas
yang menghasilkan banyak
penemuan, bail dalam bentuk
penolakan maupun
pengembangannya
# Dr. MAURICE BUCAILLE
Ilmu adalah kunci untuk
mengungkapkan segala hal, baik
dalam jangka waktu yang lama
maupun sebentar.
# NS. ASMADI
Ilmu merupakan sekumpulan
pengetahuan yang padat dan proses
mengetahui melalui penyelidikan
yang sistematis dan terkendali
(metode ilmiah)
# POESPOPRODJO
Ilmu adalah proses perbaikan diri
secara bersinambungan yang
meliputi perkembangan teori dan
uji empiris
1. Robert Ackermann
Filsafat ilmu dalam suatu segi
adalah sebuah tinjauan kritis
tentang pendapat-pendapat ilmiah
dewasa ini dengan perbandingn
terhadap pendapat-pendapat
lampau yang telah dibuktikan atau
dalam kerangka ukuran-ukuran
yang dikembangkan dari pendapat-
pendapat demikian itu, tetapi
filsafat ilmu demikian bukan suatu
cabang yang bebas dari praktek
ilmiah senyatanya.
2. Peter Caws
Filsafat ilmu merupakan suatu
bagian filsafat yang mencoba
berbuat bagi ilmu apa yang filsafat
seumumnya melakukan pada
seluruh pengalaman manusia.
3. Lewis White Beck
Filsafat ilmu mempertanyakan dan
menilai metode-metode pemikiran
ilmiah serta mencoba menetapkan
nilai dan pentingnya usaha ilmiah
sebagai suatu keseluruhan.
4. John Macmurray
Filsafat ilmu terutama
bersangkutan dengan pemeriksaan
kritis terhadap pandangan-
pandangan umum, prasangka-
prasangka alamiah yang
terkandung dalam asumsi-asumsi
ilmu atau yang berasal dari
keasyikan dengan ilmu.
Bidang garapan Filsafat Ilmu
terutama diarahkan pada
komponen‑komponen yang menjadi
tiang penyangga bagi eksistensi
ilmu, yaitu ontologi, epistemologi,
dan aksiologi.
Ontologi ilmu
meliputi apa hakikat ilmu itu, apa
hakikat kebenaran dan kenyataan
yang inheren dengan pengetahuan
ilmiah, yang tidak terlepas dari
persepsi filsafat tentang apa dan
bagaimana (yang) “Ada” itu (being
Sein, het zijn). Paham monisme
yang terpecah menjadi idealisme
atau spiritualisme, Paham dualisme,
pluralisme dengan berbagai
nuansanya, merupakan paham
ontologik yang pada akhimya
menentukan pendapat bahkan ke
yakinan kita masing‑masing
mengenai apa dan bagaimana
(yang) ada sebagaimana manifestasi
kebenaran yang kita cari.
Epistemologi ilmu
meliputi sumber, sarana, dan
tatacara mengunakan sarana
tersebut untuk mencapai
pengetahuan (ilmiah). Perbedaan
mengenal pilihan landasan
ontologik akan dengan sendirinya
mengakibatkan perbedaan dalam
menentukan sarana yang akan kita
pilih. Akal (Verstand), akal budi
(Vernunft) pengalaman, atau
komunikasi antara akal dan
pengalaman, intuisi, merupakan
sarana yang dimaksud dalam
epistemologik, sehingga dikenal
adanya model‑model epistemologik
seperti: rasionalisme, empirisme,
kritisisme atau rasionalisme kritis,
positivisme, fenomenologi dengan
berbagai variasinya. Ditunjukkan
pula bagaimana kelebihan dan
kelemahan sesuatu model
epistemologik beserta tolok
ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah)
itu seped teori koherensi,
korespondesi, pragmatis, dan teori
intersubjektif.
Akslologi llmu
meliputi nilal‑nilal (values) yang
bersifat normatif dalam pemberian
makna terhadap kebenaran atau ke
nyataan sebagaimana kita jumpai
dalam kehidupan kita yang
menjelajahi berbagai kawasan,
seperti kawasan sosial,
kawasansimbolik atau pun
fisik‑material. Lebih dari itu
nilai‑nilai juga ditunjukkan oleh
aksiologi ini sebagai suatu conditio
sine qua non yang wajib dipatuhi
dalam kegiatan kita, baik dalam
melakukan penelitian maupun di
dalam menerapkan ilmu.
Dalam perkembangannya Filsafat
llmu juga mengarahkan
pandangannya pada Strategi
Pengembangan ilmu, yang
menyangkut etik dan heuristik.
Bahkan sampal pada dimensi ke
budayaan untuk menangkap tidak
saja kegunaan atau kemanfaatan
ilmu, tetapi juga arti maknanya
bagi kehidupan
pelajari juga Perkembangan filsafat
ilmu , Penjelasan Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi .
Senin, 06 Januari 2014
Tenggelamnya pulau jawa
Misteri Mengerikan
Tentang Akan
Tenggelamnya Pulau
Jawa
Pulau Jawa bisa tenggelam? Orang
akan menjawab skeptis, “ah tidak
mungkin”. Namun jika kita berpijak
pada pendapat para ahli kebumian
(geologi) tentu judul di atas bukan
sekedar omong kosong. Sebuah
ramalan tentang tanah Jawa telah
ada berabad-abad yang lalu.
Khususnya mengenai Kehancuran
pulau Jawa setelah Seratus Tahun
perang Sabil (hasil ramalan Raja
Kediri Jayabaya).
Hal ini sesuai dengan hukum
Geologis, bahwa sewaktu-waktu
bumi ini akan mengalami
pergeseran, baik akibat Gempa
tektonik atau letusan gunung
berapi. Adapun faktor manusianya
sendiri, akibat manusia banyak
melakukan kejahatan dan dosa
besar lainnya. Sehingga energi
negatif yang beredar diserap oleh
alam pulau jawa yang
mengakibatkan ketidak seimbangan
pulau Jawa.
Yang menjadi faktor alam adalah
adanya pengaruh global yang
berupa perubahan iklim dan cuaca
sehubungan dengan aktivitas
manusia di beberapa negara
industri. Penyebaran polusi dan
pengrusakan efek rumah kaca telah
terjadi selama hampir 300 tahun
sejak revolusi Industri. Aktifitas
yang demikian itu menimbulkan
lapisan ozon berlubang dan
semakin hari semakin besar,
efeknya adalah radiasi cahaya
matahari tidak langsung diserap
atmosfir bumi namun langsung
jatuh ke bumi, pemanasan global
pun agaknya semakin hari akan
menjadi kenyataan. Suhu bumi
semakin panas, dikutub efek dari
pemanasan ini bisa mencairkan es
sehingga menambah volume air
laut.
Kalau dilihat dari keadaan cuaca
yang sudah mulai berubah
diseluruh dunia karena global
warming, naiknya volume air laut.
Bisa dibayangkan apabila pulau es
raksasa ini mencair, Jakarta bisa
tenggelam lho! Sebuah pulau es
raksasa seluas 260 km2, lima kali
luas Jakarta Pusat. Bisa
dibayangkan, apabila seluruh es
Greenland mencair, bisa menaikkan
permukaan air dunia 6 meter.
Jakarta Utara bisa tenggelam jika
permukaan laut naik 2-3 meter.
Para ilmuwan Amerika Serikat
mengklaim robohnya bongkahan es
raksasa itu akibat pemanasan
global.
Akibatnya beberapa kota pantai
dunia bisa tenggelam akibat
meluapnya air laut, pulau jawa
yang kini memiliki banyak kota
pantai akan terkena imbasnya.
Bukan musathil suatu saat kota-
kota itu akan hanyut tenggelam
bila air laut meluap naik ke
daratan. Kisah tentang
tenggelamnya peradaban-
peradaban kuno seperti Benua
Atlantik adalah suatu contoh
bahwa kekuatan alam tidak bisa
dihentikan oleh manusia.
Pulau Jawa adalah sebuah kapal
raksasa yang ditopang oleh
suspensi yang sangat besar.
Suspensi ini yang selama ini
meredam getaran lempeng
Samudera Hindia yang terus
menerus mendorong Pulau Jawa ke
arah utara. Suspensi ini
membentang dari timur Pulau Jawa
hingga ke barat di dekat Gunung
Krakatau. Sama seperti suspensi
mobil, suspensi Pulau Jawa juga
memiliki oli. Oli-nya suspensi
Pulau Jawa adalah Lumpur
Lapindo. Dan yang berfungsi
sebagai pegas adalahgas yang
terperangkap bersama Lumpur
Lapindo. Ketika pengeboran
Lapindo menembus lapisan gas,
gas yang selama ini menjadi
pegas-nya Pulau Jawa mulai
merembes keluar.
Rembesannya gas tidak lewat
lubang sumur karena lubang
sumur tertutup oleh ‘pelumas’
pengeboran, tapi merembes
melalui lapisan tanah yang tidak
dilapisi casing. Akibatnya
berkurang gaya elastis yang
mengimbangi energi potensial
lempeng Samudra Hindia sehingga
muncul lah gempa di Jogja.
Pengeboran itu pula kini membuat
system suspensi makin rapuh,
hingga makin sering gempa terjadi
di Pulau Jawa. Mengingat system
suspensi membentang dari timur
ke barat, maka tak heran jika
gempa bergerak dari sebelah timur
menuju ke barat. Mungkin akan
sampai di Krakatau. Nah, kalau
sudah sampai di krakatau, Jawa
praktis tidak punya lagi sistem
suspensi. Dorongan lempeng
Samudra Hindia akan membuat
Pulau Jawa makin miring ke arah
selatan, akhirnya ambruk dan
tenggelam.
Gempa yang sering terjadi di jawa
dapat menyebabkan kerapuhan
pada penyangga pulau (menjadi
kosong atau tidak padat tanahnya)
ditambah amblasnya tanah di
sekitar sidoarjo akibat lumpur
lapindo. Hasil penelitian telah
menunjukkan berkurangnya
kepadatan dalam tanah di pulau
jawa. Indikasinya adalah jika
terjadi hujan tiga jam tanpa henti,
sedikitnya ada 500 desa di Jawa
yang tenggelam, kalau enamjam
maka lebih dari 1.000 desa akan
kebanjiran. Di Jakarta ini hujan
yang turun selama dua jam saja,
beberapa daerah di kota Jakarta ini
akan terendam air. Jika pemerintah
tidak serius untuk segera
membenahi lingkungan di negeri
ini, maka pada tahun 2020 pulau
Jawa bisa tenggelam.
Persis kayak ramalan Joyoboyo,
wong jowo kelangan jawane alias
Orang Jawa kehilangan (Pulau)
Jawa-nya!