Total Tayangan Halaman

Selasa, 07 Januari 2014

ASAL USUL PENDUDUK PULAU JAWA

Menurut Suyono, dari karya
Van Hien, menyebutkan bahwa
keterangan terbaik mengenai
keadaan geologi pulau Jawa dapat
ditemukan dalam tulisan kuno
Hindu yang menyatakan bahwa
Jawa sebelumnya adalah pulau-
pulau yang diberi nama Nusa
Kendang yang menjadi bagian dari
India. Pulau ini merupakan
hamparan dari beberapa pulau
yang kemudian karena letusan
gunung-gunung berapi dan
goyangan dahsyat gempa bumi
pulau-pulau itu bersatu. Babad itu
menceritakan bahwa pada tahun
296 sesudah Masehi terjadi
letusan gunung-gunung berapi
yang berada di pulau itu, sehingga
gunung yang semula ada menjadi
hilang dan memunculkan gunung-
gunung berapai yang baru.
148 tahun kemudian.
Tepatnya pada 444 sesudah
Masehi terjadi gempa bumi yang
memisahkan Tembini, daerah
bagian selatan pulau Jawa menjadi
pulau tersendiri: Nusa Barung dan
Nusa Kambangan. Tahun 1208
pulau Sumtera karena suatu
musibah gempa juga terpisah
dengan pulau Jawa. Begitu juga
pada tahun 1254, Madura yang
semula bernama Hantara
mengalami kejadian serupa, yang
disusul kemudian pada 1293 pulau
Balu yang terpisah dengan Jawa.
Adapun para penghuni Pulau
Jawa, seperti diceritakan dari
sumber surat kuno yang tidak
beredar, yaitu Serat Asal Keraton
Malang berasal dari daerah Turki,
tetapi ada yang menyebut daerah
Dekhan (India). Pada tahun 350
SM, Raja Rum, pemimpin dari
wilayah tersebut mengirim
perpindahan penduduk sebanyak
20.000 laki-laki dan 20.000
perempuan. Yang dipimpin oleh Aji
Keler. Pengiriman ini adalah
pengiriman yang kedua, karena
pengiriman yang pertama
mengalami kegaalan dengan
kembalinya seluruh utusan ke
negeri asal yang terjadi pada
tahun 450 SM. Jawa yang saat itu
bernama Nusa Kendang ditemukan
sebagai pulau yang ditutupi hutan
dan dihuni serbagai jenis binatang
buas dan tanah datarnya
ditumbuhi tanaman yang
dinamakan Jawi. Karena
keseluruhan dataran pulau ini
dipenuhi tanaman tersebut, maka
ia meberi nama pulau ini dengan
nama “Jawi”.
Karena nama Jawi masih
umum dan meliputi seluruh
daratan pulau ini, maka agak sulit
menentukan lokasi pendaratan
para utusan ini. Akan tetapi,
diperkirakan pendaratan itu terjadi
di Semampir, yaitu suatu tempat
yang dekat dengan Surabaya saat
ini. Gelombang kedua ini juga
mengalami kegagalan karena yang
tersisa dari mereka hanya 40
pasang. Hal ini mendorong Raja
untuk mengirim utusan lagi
dengan persiapan yang lebih
matang dan penyeidaan alat yang
lebih lengkap untuk menjaga dari
kemungkinan serangan binatang
buas seperti yang dialami utusan
pertama dan kedua. Di samping
peralatan pengamanan diri, mereka
juga diperlengkapi dengan alat
pertanian, sebagai alat bercocok
tanam bila kelak berhasil
menempatinya dengan aman.
Sementara itu, untuk mencegah
agar orang-orang supaya tidak
melarikan diri, diangkatlah seorang
pemimpin dari kalangan mereka
yaitu Raja Kanna. Gelombang
ketiga ini rupanya berhasil dan
akhirnya mereka menyebar ke
pedalaman yang terbuka di pulau
Jawa. Dari sisi keyakinan, orang-
orang gelombang ketiga ini
menganut kepercayaan Animisme.
Dari sumber lain menyebutkan
bahwa penduduk Jawa berasal dari
daratan Cina Selatan yang
membanjiri pulau ini sejak 3 ribu
tahun SM. Selama 2 ribu tahun
kemudian terjadi perpindahan
penduduk dari tempat yang sama.
Penduduk Jawa menurut sumber
ini berasal dari gelomnang-
gelombang itu. Mereka hidup dari
pertanian karena sebelumnya
sudah mengenal persawahan.
Pada tahun 100 SM terjadi
lagi perpindahan penduduk
keempat yang terdiri dari kaum
Hindu-Waisya. Mereka itu adalah
para petani dan pedagang yang
karena permasalahan keyakinan
mereka meninggalkan India. Warga
pindahan kelompok keempat ini
menetap di daerah Pasuruan dan
Probolinggo. Kemudian mereka
secara perlahan membuat koloni-
koloni di bagian selatan pulau
Jawa yang pusatnya terletak di
Singosari. Ketika di Singosari, siapa
yang memimpin tidak jelas, tetapi
ada naskah yang menyatakan
adanya Ratu yang memegang
kekuasaan di daerah Kedi, namya
Nyai Kedi. Singgasana kerajaan ini
berada di Kediri. Pada tahun 900
sesudah M, keturunan Hindu-
Waisya dimasukkan dalam kerajaan
Mendang yang juga dinamakan
Kamulan. Nama lain untuk
Mendang dan Kamulan ini adalah
Ngastina atau Gajah Huiya. Sedang
raja yang memerintah di sana
adalah Prabu Jayabaya. Dalam
sejarah, kerajaan dengan rajanya
yang menguasai seluruh wilayah
Jawa Timur pada tahun 1019-1049
adalah Airlangga. Ia kemudian
diganti Jaya Baya yang memerintah
pada tahun 1135-1157 M. Di bawah
kekuasaan Jaya Baya, Mpu Sedah
menerjemahkan sebagian Epos
India Mahabarata ke dalam Bahasa
Jawa engan nama Baratayuda. Jaya
Baya dikenal sebagai pemaklum
ramalan-ramalan yang akan terjadi
di pulau Jawa. Jayabaya kemudian
memindahkan kerajaannya itu ke
Kediri dan memberinya nama baru
yaitu Doho. Raja Jayabaya ini
dikenal sebagai ilmuan yang
ramalan-ramalannya banyak
terbukti terjadi di kemudian hari.
Ia meramalkan apa yang akan
terjadi di pulau Jawa hingga tahun
2074 M.
Ada cerita lain, bahwa pada
tahun 78 sesudah Masehi ada
seorang utusan dari kerajaan
Astina, namanya Aji Saka. Astina
adalah nama lain dari Gujarat.
Nama Astina juga masuk dalam
cerita pewayangan yang beredar di
masyarakat Jawa. Kemudian, Aji
Saka di utus untuk menyelidiki apa
yang ada dan terjadi pada
kepulauan di Nusantara. Sesampai
di pulau tersebut, ia mendarat di
bagian timur pulau Jawa yang saat
tiu masih bernama Nusa Kendang.
Kemudian Aji Saka menaklukkan
kerajaan Mendang dan mengusir
sang raja yang bernama Dewata
Cengkar. Tetapi kemudian Aji Saka
dikalahkan oleh Daniswara, putra
Dewata Cengkar. Karena kalah, Aji
Saka kembali ke Astina. Tahun 125
M, Aji Saka kembali lagi bersama
gelombang perpindahan orang-
orang Budha dan pada saat itulah
ia berhasil menaklukkan kerajaan
Mendang. Setelah kemenangan itu
Aji Saka memindahkan pusat
kerajaan ke Purwodadi.
Bersamaan dengan datangnya
Aji Saka, dimulailah Babad Jawa
dan perhitungan Tahun Jawa. Dari
Babad-babad itu diketahui, setelah
tahun 125 M pertumbuhan
penduduk semakin cepat oleh
perpindahan kaum Budha. Para
pendatang ini kemudian
menempat di pantai selatan pulau
Jawa yang bernama Barung dan
Tembini. Sebagaimana disebutkan
di atas, pada tahun 444 M terjadi
gempa bumi dahsyat yang
kemudian memecah pulau Jawa.
Pantai bagian selatan terbagi dua,
yaitu Nusa Barung yang berada di
dekat Puger Kulon dan Nusa
Kambangan yang berada di dekat
Cilacap.
Sebagaimana disebutkan
dalam buku Suyono, secara
berturut-turut perpindahan
penganut Budha ke pulau Jawa
terjadi sebagai berikut:
1. Tahun 157 M. Yang
menetap di daerah
Jepara.
2. Tahun 163 M. Yang
menetap di daerah Tegal
dan Banyumas.
3. Tahun 174 M. Yang
menetap di daerah
Tengger.
4. Tahun 193 M. Yang
menetap di daerah
Kedu.
5. Tahun 216 M. Yang
menempati daerah
Madiun.
6. Tahun 252 M. Yang
menempati daerah
Yogyakarta.
7. Tahun 272 M. Yang
menempati daerah
Kediri.
8. Tahun 295 M. Yang
menempati daerah Ngawi
dan Bojonegoro.
9. Tahun 312 M. Yang
menempati daerah
Kudus.
10. Tahun 314 M. Yang
menempati daerah
Mojokerto.
11. Tahun 424 M. Yang
menempati daerah
Surakarta.
Lebih lanjut, pada tahun 450
M terjadi lagi perpindahan
penduduk dari India yang
mendiami tanah yang terletak
antara sungai Cisadane dan
Citarum, di Jawa Barat. Para
pendatang itu menganut agama
Whisnu. Setelah beberepa lama
tinggal di tempat tersebut,
kemudian mereka membentuk
kerajaan sendiri dan memilih
seorang raja sebagai pemimpinnya.
Rajanya yang dipilij adalah
Purnawarman. Ia dikenal sebagai
raja yang gagah dan berani karena
ambisinya untuk menaklukan
kerajaan-kerajaan lain di tanah
Sunda. Meskipun tidak semuanya
berhasil dengan kemenangan,
Purnawarman dikenal sebagai raja
pertama yang memimpin wilayah
cukup luas di pulau Jawa.
Peralihan penduduk
selanjutnya terjadi pada tahun 643
M yang dilakukan oleh Kusuma
Citra, keturunan Jaya Baya. Pada
masa Kusuma Citra inilah Nama
Astina dirubah menjadi kerajaan
Gujarat atau Kujrat. Saat Kusuma
Citra menjadi raja, ada suatu
ramalan bahwa kerajaannya akan
musnah, karenanya ia berkeinginan
kuat untuk memindahkan
kerajaannya ke Pulau Jawa. Oleh
adanya keinginan itu, ia mengirim
sejumlah 5.000 penduduk yang
beragama Budha dengan pemimpin
putranya Awab. Penduduk yang
dikirim oleh Kusuma Citra itu
terdiri dari Jalma Tani, Jalma
Undagi, Jalma Udang Dudukan,
Jalma Pangiarik, dan Jalma Prajurit.
Pendaratan pertama di bagian
barat tidak berhasil, kemudian
mengubah haluan ke bagian timur
dan berhasil mendarat di sana.
Awab sebagai pemimpin kemudian
mendirikan kerajaan baru yang
diberi nama Mendang Kamulan.
Kemudian Awab menetapkan
dirinya sebagai raja dengan gelar
Brawijaya Sewala Cala.
Sejarah tanah Jawa
selanjutnya dapat ditemukan
dalam Babad-babad yang
menceritakan kelahiran kerajaan-
kerajaan di Jawa. Namun demikian,
sejarah tersebut penuh dengan
mitos dan tampaknya kurang dapat
diterima karena versinya yang amat
beragam. Terlebih ada motif
tertentu dari seroang raja
memerinth seroang Mpu atau
pujangga untuk menyusun
silsilahnya sampai kepada nabi
Adam yang dimaksudkan untuk
semakin mentahbiskan dirinya
sebagai wakil Tuhan di bumi.
Penegasan silsilah itu dimaksudkan
untuk semakin memperteguh
kewibawaannya di mata khalayak
rakyat. Cerita itu sulit diterima
kebenarannya karena tidak
diperkuat dengan bukti terjadinya
peristiwa namun demikianlah
adanya saat itu.
Memang mengenai Jawa bisa
ditemukan berbagai tulisan
sebagai bukti, akan tetapi bukti
yang didapat isinya samar-samar.
Sehingga hanya memperkuat
kejadian tertentu saja. Pada saat
ini, sebagaimana yang banyak
disebutkan dalam beberapa
sumber, sejarah Jawa dimulai dari
kedatangan Aji Saka tahun 78 atau
125 M. Kemudian, dalam buku
Etika Jawa, Franz Magnis
menyebutkan asal-usul penduduk
Jawa berasal dari perpindahan
penduduk dari Melayu yang
berasal dari Cina Selatan yang
dimulai sejak tahun 3.000 SM. Ia
berpendapat demikian sesuai
dengan apa yang dikatakan oleh
J.H. Kerm dalam buku “Linguistic
Materials for the determination of
the Century of Origin of the Malay
People”.
Ahmad Khalil. ISLAM JAWA Sufisme
dalam Etika dan Tradisi Jawa .
Malang: UIN-Malang Press. 2008.
Franz Magnis. Etika Jawa. Jakarta:
Gramedia. 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar