Total Tayangan Halaman

Senin, 20 Januari 2014

HUJAN ADALAH BERKAH, BERSYUKURLAH JIKA HUJAN

Jangan salahkan hujan , hujan itu
indah, Hujan datang membawa
berkah. Sebagian sering berasumsi
bahwa penyebab banjir awal tahun
ini karena curah hujan tinggi
melanda kawasan Jabodetabek.
Tetapi faktanya tidak. Lantas, apa
sebabnya?,
Penyebabnya ialah kita sendiri,
kita masih belum memiliki
kesadaran dan peduli lingkungan.
Air hujan mestinya diserapkan ke
bumi.'' Namun yang terjadi,
kantong-kantong penyangga seperti
sawah, setu, dan rawa banyak yang
hilang serta berubah menjadi
perumahan dan perkantoran
megah.
Di hulu, pembalakan dan
penggundulan hutan merupakan
sumber utama datangnya banjir di
berbagai wilayah Indonesia. Curah
hujan dengan intensitas tinggi,
rendahnya kemampuan tanah
menyerap air berakibat rentannya
terjadi banjir dan longsor.
Salahkah hujan?
Hujan adalah air dari langit yang
diturunkan Allah dengan penuh
keberkahan: “Dan Kami turunkan
dari langit air yang penuh
keberkahan lalu Kami tumbuhkan
dengan air itu pohon-pohon dan
biji-biji tanaman yang
diketam” (Qs Qaaf 9).
Di antara keberkahan dan
manfaat hujan adalah manusia,
hewan dan tumbuh-tumbuhan
sangat membutuhkannya untuk
keberlangsungan hidup,
sebagaimana Allah Ta’ala: “Dan dari
air Kami jadikan segala sesuatu
yang hidup. Maka mengapakah
mereka tiada juga beriman?” (Qs
Al-Anbiya’ 30).
Rasulullah SAW semasa
hidupnya adalah orang yang
sangat senang dengan hujan,
karena hujan adalah rahmat Allah.
Dalam hadits dari Anas RA,
Rasulullah bahkan ber tabarruk
(mengambil berkah) dari air hujan:
“Kami bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah kehujanan. Lalu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyingkap bajunya hingga
terguyur hujan. Kemudian kami
mengatakan, ‘Ya Rasulullah,
mengapa engkau melakukan
demikian?’ Kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Karena dia baru saja
Allah ciptakan” (HR Muslim).
Hadits di atas dijadikan dalil
bagi ulama Syafi’iyah untuk
menganjurkan menyingkap
sebagian badan (selain aurat)
pada awal turunnya hujan, agar
terguyur air hujan tersebut.
Keutamaan lainnya, saat hujan
adalah waktu yang maqbul untuk
memanjatkan doa, sebagaimana
sabda Nabi SAW: “Carilah do’a
yang mustajab pada saat
bertemunya dua pasukan, pada
saat iqamah shalat, dan saat turun
hujan" (HR Al-Hakim).
Karena demikian banyaknya fadilah
hujan, maka Rasulullah SAW
menganjurkan doa mulia untuk
menyambut rahmat
hujan: “Muthirna bi fadhlillahi wa
rohmatih” (HR Muslim). Artinya:
“Kita diberi hujan karena karunia
dan rahmat Allah.”
Menolak hujan dengan meminta
bantuan paranormal adalah
tindakan yang tidak hanya
bertentangan dengan sunnah
Rasul, tapi juga kemusyrikan yang
tidak terampuni dosanya.
Rasulullah SAW
bersabda: “Barangsiapa
mendatangi tukang ramal atau
dukun lalu dia membenarkan apa-
apa yang dikatakan maka sungguh
dia telah kafir terhadap apa yang
telah diturunkan kepada
Muhammad” (HR Abu Dawud, At-
Tirmidzi, Ibnu Majah).
"Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang
selain dari syirik itu bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa
yang mempersekutukan Allah, maka
sungguh ia telah berbuat dosa
besar" (An-Nisaa': 48).
"Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga,
dan tempatnya ialah Neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang
zhalim itu seorang penolong
pun." (Al-Maa-idah: 72).
"Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu)
dengan Dia, dan Dia mengampuni
dosa yang lain dari syirik itu bagi
siapa yang dikehendaki-Nya.
Barang siapa yang
mempersekutukan (sesuatu)
dengan Allah, maka sesungguhnya
ia telah tersesat sejauh-
jauhnya." (An-Nisaa': 116).
“Barang siapa mempersekutukan
sesuatu dengan Allah, maka
(adalah) ia seolah-olah jatuh dari
langit lalu disambar oleh burung,
atau diterbangkan angin ke tempat
yang jauh.” (Al-Hajj: 31). Wallahu
a'lamu bis-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar