Total Tayangan Halaman

Senin, 06 Januari 2014

Tenggelamnya pulau jawa

Misteri Mengerikan
Tentang Akan
Tenggelamnya Pulau
Jawa
Pulau Jawa bisa tenggelam? Orang
akan menjawab skeptis, “ah tidak
mungkin”. Namun jika kita berpijak
pada pendapat para ahli kebumian
(geologi) tentu judul di atas bukan
sekedar omong kosong. Sebuah
ramalan tentang tanah Jawa telah
ada berabad-abad yang lalu.
Khususnya mengenai Kehancuran
pulau Jawa setelah Seratus Tahun
perang Sabil (hasil ramalan Raja
Kediri Jayabaya).
Hal ini sesuai dengan hukum
Geologis, bahwa sewaktu-waktu
bumi ini akan mengalami
pergeseran, baik akibat Gempa
tektonik atau letusan gunung
berapi. Adapun faktor manusianya
sendiri, akibat manusia banyak
melakukan kejahatan dan dosa
besar lainnya. Sehingga energi
negatif yang beredar diserap oleh
alam pulau jawa yang
mengakibatkan ketidak seimbangan
pulau Jawa.
Yang menjadi faktor alam adalah
adanya pengaruh global yang
berupa perubahan iklim dan cuaca
sehubungan dengan aktivitas
manusia di beberapa negara
industri. Penyebaran polusi dan
pengrusakan efek rumah kaca telah
terjadi selama hampir 300 tahun
sejak revolusi Industri. Aktifitas
yang demikian itu menimbulkan
lapisan ozon berlubang dan
semakin hari semakin besar,
efeknya adalah radiasi cahaya
matahari tidak langsung diserap
atmosfir bumi namun langsung
jatuh ke bumi, pemanasan global
pun agaknya semakin hari akan
menjadi kenyataan. Suhu bumi
semakin panas, dikutub efek dari
pemanasan ini bisa mencairkan es
sehingga menambah volume air
laut.
Kalau dilihat dari keadaan cuaca
yang sudah mulai berubah
diseluruh dunia karena global
warming, naiknya volume air laut.
Bisa dibayangkan apabila pulau es
raksasa ini mencair, Jakarta bisa
tenggelam lho! Sebuah pulau es
raksasa seluas 260 km2, lima kali
luas Jakarta Pusat. Bisa
dibayangkan, apabila seluruh es
Greenland mencair, bisa menaikkan
permukaan air dunia 6 meter.
Jakarta Utara bisa tenggelam jika
permukaan laut naik 2-3 meter.
Para ilmuwan Amerika Serikat
mengklaim robohnya bongkahan es
raksasa itu akibat pemanasan
global.
Akibatnya beberapa kota pantai
dunia bisa tenggelam akibat
meluapnya air laut, pulau jawa
yang kini memiliki banyak kota
pantai akan terkena imbasnya.
Bukan musathil suatu saat kota-
kota itu akan hanyut tenggelam
bila air laut meluap naik ke
daratan. Kisah tentang
tenggelamnya peradaban-
peradaban kuno seperti Benua
Atlantik adalah suatu contoh
bahwa kekuatan alam tidak bisa
dihentikan oleh manusia.
Pulau Jawa adalah sebuah kapal
raksasa yang ditopang oleh
suspensi yang sangat besar.
Suspensi ini yang selama ini
meredam getaran lempeng
Samudera Hindia yang terus
menerus mendorong Pulau Jawa ke
arah utara. Suspensi ini
membentang dari timur Pulau Jawa
hingga ke barat di dekat Gunung
Krakatau. Sama seperti suspensi
mobil, suspensi Pulau Jawa juga
memiliki oli. Oli-nya suspensi
Pulau Jawa adalah Lumpur
Lapindo. Dan yang berfungsi
sebagai pegas adalahgas yang
terperangkap bersama Lumpur
Lapindo. Ketika pengeboran
Lapindo menembus lapisan gas,
gas yang selama ini menjadi
pegas-nya Pulau Jawa mulai
merembes keluar.
Rembesannya gas tidak lewat
lubang sumur karena lubang
sumur tertutup oleh ‘pelumas’
pengeboran, tapi merembes
melalui lapisan tanah yang tidak
dilapisi casing. Akibatnya
berkurang gaya elastis yang
mengimbangi energi potensial
lempeng Samudra Hindia sehingga
muncul lah gempa di Jogja.
Pengeboran itu pula kini membuat
system suspensi makin rapuh,
hingga makin sering gempa terjadi
di Pulau Jawa. Mengingat system
suspensi membentang dari timur
ke barat, maka tak heran jika
gempa bergerak dari sebelah timur
menuju ke barat. Mungkin akan
sampai di Krakatau. Nah, kalau
sudah sampai di krakatau, Jawa
praktis tidak punya lagi sistem
suspensi. Dorongan lempeng
Samudra Hindia akan membuat
Pulau Jawa makin miring ke arah
selatan, akhirnya ambruk dan
tenggelam.
Gempa yang sering terjadi di jawa
dapat menyebabkan kerapuhan
pada penyangga pulau (menjadi
kosong atau tidak padat tanahnya)
ditambah amblasnya tanah di
sekitar sidoarjo akibat lumpur
lapindo. Hasil penelitian telah
menunjukkan berkurangnya
kepadatan dalam tanah di pulau
jawa. Indikasinya adalah jika
terjadi hujan tiga jam tanpa henti,
sedikitnya ada 500 desa di Jawa
yang tenggelam, kalau enamjam
maka lebih dari 1.000 desa akan
kebanjiran. Di Jakarta ini hujan
yang turun selama dua jam saja,
beberapa daerah di kota Jakarta ini
akan terendam air. Jika pemerintah
tidak serius untuk segera
membenahi lingkungan di negeri
ini, maka pada tahun 2020 pulau
Jawa bisa tenggelam.
Persis kayak ramalan Joyoboyo,
wong jowo kelangan jawane alias
Orang Jawa kehilangan (Pulau)
Jawa-nya!

1 komentar: